Category Archives: Wikipedia

Selamat Tahun Baru 2012


Info Meninggal Dunia atau Berita Duka Cita

Tahun baru

Tahun baru adalah suatu perayaan di mana suatu budaya merayakan berakhirnya masa satu tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya. Budaya yang mempunyaikalender tahunan semuanya mempunyai perayaan tahun baru. Hari tahun baru di Indonesia jatuh pada tanggal 1 Januari karena Indonesia mengadopsi kalender Gregorian, sama seperti mayoritas negara-negara di dunia.

Daftar isi

[sembunyikan]

Sejarah

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM.[1] Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 JanuariCaesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius CaesarKaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.

Tahun baru di dunia

Lihat pula

disalin dari http://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_baru

Tags : #RIP, #ajal #anumerta #beritadukacita #cremation #dead #death #die #died #dikremasi #dikremasikan #dikubur #dimakamkan #disemayamkan #dukacita #grave #jiwa #kematian #kremasi #kubur #kuburan #makam #mati #meninggal #meninggaldunia #nyawa #obituari #obituary #reastinpeace #soul #syahid #tewas #tomb #wafat #rumahduka #mortuary #petimati #coffin #jenazah #almarhum #almarhumah #pelayat #melayat #Announcements #Family #Life #News #People #Personal #Social Media #Health


Selamat Hari Raya Natal – Kelahiran Yesus Kristus


Info Meninggal Dunia atau Berita Duka Cita

 

 

 

Natal

 

 

 

Natal (dari bahasa Portugis yang berarti “kelahiran”) adalah hari raya umat Kristen yang diperingati setiap tahun oleh umat Kristiani pada tanggal 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus KristusNatal dirayakan dalam kebaktian malam pada tanggal 24 Desember; dan kebaktian pagi tanggal 25 Desember. Beberapa gereja Ortodoks merayakan Natal pada tanggal 6 Januari (lihat pula Epifani).

 

Dalam tradisi barat, peringatan Natal juga mengandung aspek non-agamawi. Beberapa tradisi Natal yang berasal dari Barat antara lain adalah pohon Natalkartu Natal, bertukar hadiah antara teman dan anggota keluarga serta kisah tentang Santa Klaus atau Sinterklas.

Daftar isi

[sembunyikan]

Etimologi

Kata “natal” berasal dari ungkapan bahasa Latin Dies Natalis (Hari Lahir). Dahulu juga dipakai istilah Melayu-Arab Maulid atau Milad. Pada negara-negara yang berbahasa Arab, hari raya ini disebut dengan Idul Milad. Dalam bahasa Inggris perayaan Natal disebut Christmas, dari istilah Inggris kuno Cristes Maesse (1038) atau Cristes-messe (1131), yang berarti Misa Kristus. Christmas biasa pula ditulis Χ’mas, suatu penyingkatan yang cocok dengan tradisi Kristen, karena huruf X dalam bahasa Yunani merupakan singkatan dari Kristus atau dalam bahasa Yunani Chi-Rho.

Dalam Alkitab bahasa Indonesia sendiri tidak dijumpai kata “Natal”, yang ada hanya kelahiran Yesus.

Kelahiran Yesus menurut Alkitab

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kelahiran Yesus
Tahun Liturgi
Gereja Ritus Barat
Gereja Ritus Timur
Kotak ini: lihat • bicara • sunting

Orang majus mengunjungi Yesus, diperingati pada Malam Kedua Belas setelah kelahirannya pada hari Natal. (Epifani)

Cerita kelahiran Yesus dalam Injil Perjanjian Baru ditulis dalam kitab Matius (Matius 1:18-2:23) dan Lukas (Lukas 2:1-21).

Menurut Lukas, Maria mengetahui dari seorang malaikat bahwa dia telah mengandung dari Roh Kudus tanpapersetubuhan. Setelah itu dia dan suaminya Yusuf meninggalkan rumah mereka di Nazaret untuk berjalan ke kotaBetlehem untuk mendaftar dalam sensus yang diperintahkan oleh Agustus, Kaisar Romawi pada saat itu. Karena mereka tidak mendapat tempat untuk menginap di kota itu, bayi Yesus dibaringkan di sebuah palungan(malaf)[1][2]. Kelahiran Kristus di Betlehem Efrata, Yudea, di kampung halaman Daud, nenek moyang Yusuf, memenuhi nubuat nabi Mikha (Mikha 5:1-2). (Di Israel purba mereka mengenal ada dua kota Betlehem, kota Betlehem satunya lagi berada di tanah Zebulon.)

Matius mencatat silsilah dan kelahiran Yesus dari seorang perawan, dan kemudian beralih ke kedatangan orang-orang majus dari Timur — yang diduga adalah Arabia atau Persia — untuk melihat Yesus yang baru dilahirkan. Orang-orang bijak tersebut mula-mula tiba di Yerusalem dan melaporkan kepada raja YudeaHerodes Agung, bahwa mereka telah melihat sebuah bintang — yang sekarang disebut Bintang Betlehem — menyambut kelahiran seorang raja. Penelitian lebih lanjut memandu mereka ke Betlehem Yudea dan rumah Maria dan Yusuf. Mereka mempersembahkan emaskemenyan, dan mur kepada bayi Yesus. Ketika bermalam, orang-orang majus itu mendapatkan mimpi yang berisi peringatan bahwa Raja Herodes merencanakan pembunuhan terhadap anak tersebut. Karena itu mereka memutuskan untuk langsung pulang tanpa memberitahu Herodes suksesnya misi mereka. Matius kemudian melaporkan bahwa keluarga Yesus kabur ke Mesir untuk menghindari tindakan Raja Herodes yang memutuskan untuk membunuh semua anak di bawah dua tahun di Betlehem untuk menghilangkan saingan terhadap kekuasaannya. Setelah kematian Herodes, Yesus dan keluarga kembali dari Mesir, tetapi untuk menghindar dari raja Yudea baru (anak Herodes Agung, yakni Herodes Arkhelaus) mereka pergi ke Galilea dan tinggal di Nazaret.

Sisi lain dari cerita kelahiran Yesus yang disampaikan oleh kitab Injil Lukas adalah penyampaian berita itu oleh para malaikat kepada para gembala. DalamInjil Matius dicatat bahwa ada orang-orang Majus dari Timur datang ke Yudea karena melihat sebuah bintang yang besar bersinar di atas wilayah Yerusalem. Mereka mengikuti bintang itu hingga ke kota Betlehem, tempat kelahiran Yesus. Beberapa astronom dan sejarawan telah berusaha menjelaskan gabungan sejumlah peristiwa angkasa yang dapat ditelusuri yang mungkin dapat menerangkan penampakan bintang raksasa yang tidak pernah dilihat sebelumnya itu, pendapat yang paling kuat adalah dari Johannes Kepler, yang menerangkan bahwa Bintang Natal atau Bintang Betlehem itu secara astronomik adalah konjungsi planet Jupiter dan Saturnus pada konstalasi Pisces. Dan konjungsi ini memang benar terjadi pada bulan Desember tahun 7 SM. Mula-mula orang-orang Majus itu bertanya-tanya kepada penduduk Yerusalem, kemudian mereka dibawa menghadap raja Herodes. Raja Herodes bertanya kepada ahli kitab, di mana Mesias akan dilahirkan. Berdasarkan Alkitab, Mesias akan dilahirkan di Betlehem dan informasi ini dipakai untuk membantu para orang majus mengetahui letak di mana Yesus dilahirkan. Herodes minta akan setelah bertemu bayi itu agar mereka kemudian dapat melaporkan kepada Herodes. Tetapi karena mengetahui niat Herodes yang jahat , para orang majus tidak kembali melaporkan kepada Herodes.

Asal-mula peringatan Natal

Peringatan hari kelahiran Yesus tidak pernah menjadi perintah Kristus untuk dilakukan. Cerita dari Perjanjian Baru tidak pernah menyebutkan adanya perayaan hari kelahiran Yesus dilakukan oleh gereja awal. Klemens dari Aleksandria mengejek orang orang yang berusaha menghitung dan menentukan hari kelahiran Yesus. Dalam abad abad pertama hidup kerohanian anggota anggota jemaat lebih diarahkan kepada kebangkitan Yesus. Natal tidak mendapat perhatian. Perayaan hari ulang tahun umumnya – terutama oleh Origenes – dianggap sebagai suatu kebiasaan kafir: orang orang seperti Firaun dan Herodes yang merayakan hari ulang tahun mereka. Orang Kristen tidak berbuat demikian: orang Kristen merayakan hari kematiannya sebagai hari ulang tahunnya.

Tetapi di sebelah Timur orang telah sejak dahulu memikirkan mukjizat pemunculan Allah dalam rupa manusia. Menurut tulisan tulisan lama suatu sekte Kristen di Mesir telah merayakan “pesta Epifania” (pesta Pemunculan Tuhan) pada tanggal 4 Januari. Tetapi yang dimaksudkan oleh sekte ini dengan pesta Epifania ialah munculnya Yesus sebagai Anak Allah – yaitu pada waktu Ia dibaptis di sungai Yordan. Gereja sebagai keseluruhan bukan saja menganggap baptisan Yesus sebagai Epifania, tetapi terutama kelahiran-Nya di dunia. Sesuai dengan anggapan ini Gereja Timur merayakan pesta Epifania pada tanggal 6 Januari sebagai pesta kelahiran dan pesta baptisan Yesus.

Perayaan kedua pesta ini berlangsung pada tanggal 5 Januari malam (menjelang tanggal 6 Januari) dengan suatu tata ibadah yang indah, yang terdiri dari Pembacaan Alkitab dan puji pujian. Ephraim dari Syria menganggap Epifania sebagai pesta yang paling indah. Ia katakan: “Malam perayaan Epifania ialah malam yang membawa damai sejahtera dalam dunia. Siapakah yang mau tidur pada malam, ketika seluruh dunia sedang berjaga jaga?” Pada malam perayaan Epifania semua gedung gereja dihiasi dengan karangan bunga. Pesta ini khususnya dirayakan dengan gembira di gua Betlehem, tempat Yesus dilahirkan.

Sejarah

Perayaan Natal baru dimulai pada sekitar tahun 200 M di Aleksandria (Mesir). Para teolog Mesir menunjuk tanggal 20 Mei tetapi ada pula pada 19 atau 20 April. Di tempat-tempat lain perayaan dilakukan pada tangal 5 atau 6 Januari; ada pula pada bulan Desember. Perayaan pada tanggal 25 Desember dimulai pada tahun 221 oleh Sextus Julius Africanus, dan baru diterima secara luas pada abad ke-5. Ada berbagai perayaan keagamaan dalam masyarakat non-Kristen pada bulan Desember. Dewasa ini umum diterima bahwa perayaan Natal pada tanggal 25 Desember adalah penerimaan ke dalam gereja tradisi perayaan non-Kristen terhadap (dewa) matahari: Solar Invicti (Surya tak Terkalahkan), dengan menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah Sang Surya Agung itu sesuai berita Alkitab (lihat Maleakhi 4:2; Lukas 1:78; Kidung Agung 6:10).

Tanggal

Yusuf, Maria, dan bayi Yesus

Ada pendapat yang berkata bahwa tanggal 25 Desember bukanlah tanggal hari kelahiran Yesus.[rujukan?] Pendapat ini diperkuat berdasarkan kenyataan bahwa pada malam tersebut para gembala masih menjaga dombanya di padang rumput. (Lukas 2:8). Pada bulan Desember tidak mungkin para gembala masih bisa menjaga domba-dombanya di padang rumput sebab musim dingin pada saat tersebut telah tiba jadi sudah tidak ada rumput yang tumbuh lagi. Para pendukung tanggal kelahiran bulan Desember berpendapat meski musim dingin, domba-domba tetap tinggal di kandangnya di padang rumput dan tetap dijaga oleh gembala, dan meski tidak ada rumput, padang rumput tetaplah disebut padang rumput.

Ada juga pendapat yang berkata bahwa perayaan Natal bersumber dari tradisi Romawi pra-Kristen, peringatan bagi dewa pertanian Saturnusjatuh pada suatu pekan di bulan Desember dengan puncak peringatannya pada hari titik balik musim dingin (winter solstice) yang jatuh pada tanggal 25 Desember dalam kalender Julian. Peringatan yang disebut Saturnalia tersebut merupakan tradisi sosial utama bagi bangsa Romawi. Agar orang-orang Romawi dapat menganut agama Kristen tanpa meninggalkan tradisi mereka sendiri, atas dorongan dari kaisarKristen pertama RomawiKonstantin IPaus Julius I memutuskan pada tahun 350 bahwa kelahiran Yesus diperingati pada tanggal yang sama. Namun pandangan ini disanggah oleh Gereja Ritus Timur, karena Gereja Ritus Timur sudah merayakan kelahiran Yesus sejak abad ke-2, sebelum Gereja di Roma menyatakan perayaan Natal pada tanggal 25 Desember.

Oleh karena itu, ada beberapa aliran Kristen yang tidak merayakan tradisi Natal karena dianggap berasal dari tradisi kafir Romawi, yaitu aliranGereja Yesus SejatiGereja Masehi Advent Hari KetujuhGereja Baptis Hari KetujuhPerserikatan Gereja Tuhan, kaum Yahudi Mesianik, danGereja Jemaat Allah Global IndonesiaSaksi-Saksi Yehuwa juga tidak merayakan Natal.

Ada sejumlah naskah kuno yang mencatat bahwa Yesus ditempatkan di rahim Maria tanggal 25 Desember.[3] Penafsiran Kitab Hagaimengindikasikan tanggal itu merupakan tanggal datangnya Yesus ke dalam rahim Maria, yaitu Hagai 2:18-20:

Perhatikanlah mulai dari hari ini dan selanjutnya–mulai dari hari yang kedua puluh empat bulan kesembilan. Mulai dari hari diletakkannya dasar bait TUHAN perhatikanlah apakah benih masih tinggal tersimpan dalam lumbung, dan apakah pohon anggur dan pohon ara, pohon delima dan pohon zaitun belum berbuah? Mulai dari hari ini Aku akan memberi berkat!

Tanggal 24 bulan ke-9 (Kislev) dalam kalender Yahudi jatuh sekitar tanggal 25 Desember dalam kalender Gregorian.
Meskipun kapan Hari Natal jatuh masih menjadi perdebatan, agama Kristen pada umumnya sepakat untuk menetapkan Hari Natal jatuh setiap tanggal 25 Desember dalam Kalender Gregorian ini didasari atas kesadaran bahwa penetapan hari raya liturgis lain seperti Paskah dan Jumat Agung tidak didapat dengan pendekatan tanggal pasti namun hanya berupa penyelenggaraan kembali acara-acara tersebut dalam satu tahun liturgi, yang bukan mementingkan ketepatan tanggalnya namun esensi atau inti dari setiap peringatan tersebut untuk dapat diwujudkan dari hari ke hari.

Tahun

Tahun kalender Masehi diciptakan pada abad ke-6 oleh seorang biarawan yang bernama Dionysius Exignus. Tahun Masehi yang kita gunakan sekarang ini disebut juga anno Domini(Tahun Tuhan).

Bagaimana ia bisa mengetahui bahwa Tuhan Yesus dilahirkan pada tahun 1 SM? Ia mengambil data dari catatan sejarah yang menyatakan bahwa pada tahun 754 kalender Romawi itu adalah tahun ke 15 dari pemerintahan Kaisar Tiberius seperti yang tercantum di Lukas 3:1-2. Data inilah yang dijadikan patokan olehnya untuk mengawali tahun 1 SM.

Di samping itu ia juga mengambil data dari Lukas 2:1-2 yang menyatakan bahwa Kirenius (Gubenur dari Siria) pertama kali menjalankan program sensus.

Walaupun demikian masih juga orang yang meragukannya, sebab menurut sejarahwan Yahudi yang bernama Flavius Yosefus, raja Herodes meninggal dunia pada tahun 4 SM sehingga konsekuensinya tanggal lahir Yesus harus dimundurkan sebanyak empat tahun. Tapi teori ini pun tidak benar, sebab ia menganalisa tahun tersebut berdasaran adanya gerhana bulanpada tahun saat Herodes meninggal dunia yang terjadi di Yerusalem pada tanggal 13 Maret tahun 4 SM.

Tradisi

Banyak tradisi perayaan Natal di barat yang merupakan pengembangan kemudian dengan menyerap unsur berbagai kebudayaan. Pohon natal di gereja atau di rumah-rumah mungkin berhubungan dengan tradisi Mesir, atau Ibrani kuno. Ada pula yang menghubungkannya dengan pohon khusus di taman Eden (lihat Kejadian 2:9). Tetapi dalam kehidupan pra-Kristen Eropa memang ada tradisi menghias pohon dan menempatkannya dalam rumah pada perayaan tertentu. Tradisi “Pohon Terang” modern berkembang dari Jerman pada abad ke-18.[4]

Terdapat pula tradisi mengirim Kartu Natal, yang dimulai pada tahun 1843 oleh John Callcott Horsley dari Inggris. Biasanya dengan gambar yang berhubungan dengan kisah kelahiran Yesus Kristus dan disertai tulisan: Selamat Hari Natal dan Tahun Baru. Dewasa ini orang memakai teknologi informasi (email) berkirim kartu Natal elektronik.

Juga dalam rangka perayaan Natal dikenal di Indonesia tradisi Sinterklaas, yang berasal dari Belanda. Tradisi yang dirayakan pada tanggal 6 Desember ini, berhubungan dengan St. Claus (Santa Nikolas), seorang tokoh legenda, yang mengunjungi rumah anak-anak pada malam dengan kereta salju terbang ditarik beberapa ekor rusa kutub membagi-bagi hadiah. Dalam dunia modern, perayaan Natal secara sekuler lebih menekankan aspek saling memberi hadiah Natal, sehingga ada yang beranggapan Santa Nikolas makin lebih penting daripada Yesus Kristus. Dalam tradisi Sinterklass Belanda – tokoh yang digambarkan oleh suatu iklan minuman Amerika sejak tahun 1931 sebagai seorang tua gendut, bercambang putih dan berpakain merah dengan sepatu bot, ikat pinggang hitam, dan topi runcing lembut ini – menjadi bagian dari acara keluarga (untuk mendisiplin anak-anak) dengan mengunjungi rumah-rumah disertai pembantu berkulit hitam (Zwarte Pit) yang memikul karung berisi hadiah untuk anak yang baik; tetapi karung itu juga tempat anak-anak nakal dimasukkan untuk dibawa pergi. Yang sering kita lihat juga Natal dimeriahkan dengan banyak cahaya lampu berkelap-kelip. Selain untuk menambah semarak perayaan, ini juga memiliki pemahaman cahaya yang ada, maksudnya adalah Kristus akan mengusir kuasa kegelapan.[5]

Berbeda dengan tradisi perayaan Natal di barat, perayaan Natal ritus timur banyak mengandung aspek rohani seperti puasa, bermazmur, membaca Alkitab, dan puji-pujian. Di Gereja-gereja Arab, boleh dibilang tidak ada perayaan Natal tanpa didahului puasa. Gereja Ortodoks Syria melakukan persiapan Natal dengan berpuasa selama 10 hari. Sementara di Gereja Ortodoks Koptik puasanya lebih lama lagi, yaitu sejak minggu terakhir November. Jadi, sekitar 40 hari. Waktu iftar (buka puasa) pada tanggal 7 Januari pagi. Puasa pra-Natal ini disebut dengan puasa kecil (Shaum el-Shagir). Meskipun agak berbeda dalam tradisi, secara prinsip cara ini tidak jauh berbeda dengan cara berpuasa Gereja-gereja Orthodoks lain.

Makna Lilin Dalam Natal

Lilin

Dalam masa Natal, Lilin menggambarkan atau memberikan gambaran tentang Kristus.[6] Kristus dilambangkan sebagai terang bagi dunia yang gelap.[6] Di dalam Alkitabpun tertulis tentang terang, di dalam Perjanjian Lama,Yesaya 9 : 1-6, “terang yang besar”, sedangkan di dalamPerjanjian BaruYohanes 1 : 1-18,” terang manusia”. [6]

Bukan hanya di dalam peribadahan saja, di rumah-rumah dan di toko-toko kerap di hias dengan lampu-lampu yang kelap-kelip, hal ini muncul sejak zaman patristik sebagai gambaran akan terang yang mengalahkan kegelapan. [6] Penggunaan lilin dan lampu-lampu kelap-kelip merupakan pengaruh dari pesta cahaya Yahudi atau Hanukah[6] Hari raya Hanukkah dirayakan sekitar masa Adven dan Natal, dan terkadang sering diplesetkan dengan istilah Natal Yahudi.[6]

Ekonomi

Natal biasanya merupakan stimulus ekonomi tahunan terbesar di berbagai negara di dunia. Penjualan barang-barang meningkat tajam di berbagai area retail, dan pada musim Natal orang-orang membeli berbagai hadiah, dekorasi, dan persediaan Natal. Industri yang bergantung pada penjualan di musim Natal antara lain kartu Natal,pohon Natal, dan lain-lain.

Selain kegiatan ekonomi terbesar, Hari Natal di berbagai negara Barat merupakan hari paling sepi bagi dunia bisnis; hampir semua toko retail, institusi bisnis dan komersial tutup, dan hampir semua industri berhenti beroperasi. Studio-studio film merilis berbagai film berbiaya tinggi pada musim Natal untuk menghibur orang-orang, yang sedang berlibur.

Sosial

Selama puasa, jemaat gereja-gereja Koptik, seperti Gereja Koptik Sayidah el-Adzra’ (Santa Maria), di Madinat al-Tahrir, Imbaba, Kairo mempunyai kebiasaan hanya makan sekali sehari dengan menu makanan semacam tempe (dari kacang-kacangan), namanya tamiya atau falafel yang dimakan dengan sepotong roti dan air putih. Karena itu, uang belanja yang biasanya mereka belikan daging dan menu lumayan mewah lainnya dikumpulkan dan diserahkan langsung kepada orang orang miskin yang dikoordinasi oleh Gereja.[rujukan?]

 

 

 

 

disalin dari http://id.wikipedia.org/wiki/Natal

 

 

 

Tags : #RIP, #ajal #anumerta #beritadukacita #cremation #dead #death #die #died #dikremasi #dikremasikan #dikubur #dimakamkan #disemayamkan #dukacita #grave #jiwa #kematian #kremasi #kubur #kuburan #makam #mati #meninggal #meninggaldunia #nyawa #obituari #obituary #reastinpeace #soul #syahid #tewas #tomb #wafat #rumahduka #mortuary #petimati #coffin #jenazah #almarhum #almarhumah #pelayat #melayat #Announcements #Family #Life #News #People #Personal #Social Media #Health


#RIP – John Lennon


Info Meninggal Dunia atau Berita Duka Cita

 

 

 

John Lennon

 

 

 

File:Lie In 15 -- John rehearses Give Peace A Chance.jpg

Lennon rehearses “Give Peace a Chance” in Montreal, Canada, in 1969

 

 

John Winston LennonMBE (9 October 1940 – 8 December 1980) was an English musician and singer-songwriter who rose to worldwide fame as one of the founding members of The Beatles, one of the most commercially successful and critically acclaimed acts in the history of popular music. Along with fellow Beatle Paul McCartney, he formed one of the most successful songwriting partnerships of the 20th century.

Born and raised in Liverpool, Lennon became involved as a teenager in the skiffle craze; his first band, The Quarrymen, evolved into The Beatles in 1960. As the group disintegrated towards the end of the decade, Lennon embarked on a solo career that produced the critically acclaimed albums John Lennon/Plastic Ono Band and Imagine, and iconic songs such as “Give Peace a Chance” and “Imagine“. After his marriage to Yoko Ono in 1969, he changed his name to John Ono Lennon. Lennon disengaged himself from the music business in 1975 to devote time to his infant son Sean, but re-emerged in 1980 with a new album, Double Fantasy. He wasmurdered three weeks after its release.

Lennon revealed a rebellious nature and acerbic wit in his music, his writing, his drawings, on film, and in interviews, becoming controversial through his political and peace activism. He moved to New York City in 1971, where his criticism of the Vietnam Warresulted in a lengthy attempt by Richard Nixon‘s administration to deport him, while his songs were adopted as anthems by the anti-war movement.

As of 2010, Lennon’s solo album sales in the United States exceed 14 million units, and as writer, co-writer or performer, he is responsible for 25 number-one singles on the US Hot 100 chart. In 2002, a BBC poll on the 100 Greatest Britons voted him eighth, and in 2008, Rolling Stone ranked him the fifth-greatest singer of all-time. He was posthumously inducted into the Songwriters Hall of Fame in 1987 and into the Rock and Roll Hall of Fame in 1994.

 

 

 

History

1940–57: Early years

Further information: Julia LennonAlfred Lennon, and Mimi Smith

Lennon was born in war-time England, on 9 October 1940 at Liverpool Maternity Hospital, to Julia and Alfred Lennon, a merchant seaman who was away at the time of his son’s birth.[1]He was named John Winston Lennon after his paternal grandfather, John “Jack” Lennon, and then-Prime Minister Winston Churchill.[2] His father was often away from home but sent regular pay cheques to 9 Newcastle Road, Liverpool, where Lennon lived with his mother,[3] but the cheques stopped when he went absent without leave in February 1944.[4][5] When he eventually came home six months later, he offered to look after the family, but Julia—by then pregnant with another man’s child—rejected the idea.[6] After her sister, Mimi Smith, twice complained to Liverpool’s Social Services, Julia handed the care of Lennon over to her. In July 1946, Lennon’s father visited Smith and took his son to Blackpool, secretly intending to emigrate to New Zealand with him.[7] Julia followed them—with her partner at the time, ‘Bobby’ Dykins—and after a heated argument his father forced the five-year-old to choose between them. Lennon twice chose his father, but as his mother walked away, he began to cry and followed her.[8] It would be 20 years before he had contact with his father again.[9]

A grey two-story building, with numerous windows visible on both levels

251 Menlove Avenue, the home of George and Mimi Smith, where Lennon lived for most of his childhood and adolescence

Throughout the rest of his childhood and adolescence, he lived with his aunt and uncle, Mimi and George Smith, who had no children of their own, at Mendips, 251 Menlove AvenueWoolton.[10] His aunt bought him volumes of short stories, and his uncle, a dairyman at his family’s farm, bought him a mouth organ and engaged him in solving crossword puzzles.[11] Julia visited Mendips on a regular basis, and when he was 11 years old he often visited her at 1 Blomfield Road, Liverpool, where she played him Elvis Presley records, and taught him the banjo, learning how to play “Ain’t That a Shame” by Fats Domino.[12]

In September 1980 he talked about his family and his rebellious nature:

Part of me would like to be accepted by all facets of society and not be this loudmouthed lunatic musician. But I cannot be what I am not. Because of my attitude, all the other boys’ parents … instinctively recognised what I was, which was a troublemaker, meaning I did not conform and I would influence their kids, which I did. … I did my best to disrupt every friend’s home … Partly, maybe, it was out of envy that I didn’t have this so-called home, but I really did … There were five women who were my family. Five strong, intelligent women. Five sisters. Those women were fantastic … that was my first feminist education … One happened to be my mother … she just couldn’t deal with life. She had a husband who ran away to sea and the war was on and she couldn’t cope with me, and when I was four-and-a-half, I ended up living with her elder sister … the fact that I wasn’t with my parents made me see that parents are not gods.[13]

He regularly visited his cousin, Stanley Parkes, who lived in Fleetwood. Seven years Lennon’s senior, Parkes took him on trips, and to local cinemas.[14] During the school holidays, Parkes often visited Lennon with Leila Harvey, another cousin, often travelling to Blackpool two or three times a week to watch shows. They would visit the Blackpool Tower Circus and see artists such as Dickie ValentineArthur AskeyMax Bygraves and Joe Loss, with Parkes recalling that Lennon particularly liked George Formby.[15] After Parkes’s family moved to Scotland, the three cousins often spent their school holidays together there. Parkes recalled, “John, cousin Leila and I were very close. From Edinburgh we would drive up to the family croft at Durness, which was from about the time John was nine years old until he was about 16.”[16] He was 14 years old when his uncle George died of a liver haemorrhage on 5 June 1955 (aged 52).[17]

Lennon was raised as an Anglican and attended Dovedale Primary School.[18] From September 1952 to 1957, after passing his Eleven-Plus exam, he attended Quarry Bank High Schoolin Liverpool, and was described by Harvey at the time as, “A happy-go-lucky, good-humoured, easy going, lively lad.”[19] He often drew comical cartoons which appeared in his own self-made school magazine called The Daily Howl,[20] but despite his artistic talent, his school reports were damning: “Certainly on the road to failure … hopeless … rather a clown in class … wasting other pupils’ time.”[21]

His mother bought him his first guitar in 1956, an inexpensive Gallotone Champion acoustic for which she “lent” her son five pounds and ten shillings on the condition that the guitar be delivered to her own house, and not Mimi’s, knowing well that her sister was not supportive of her son’s musical aspirations.[22] As Mimi was sceptical of his claim that he would be famous one day, she hoped he would grow bored with music, often telling him, “The guitar’s all very well, John, but you’ll never make a living out of it”.[23] On 15 July 1958, when Lennon was 17 years old, his mother, walking home after visiting the Smiths’ house, was struck by a car and killed.[24]

Lennon failed all his GCE O-level examinations, and was accepted into the Liverpool College of Art only after his aunt and headmaster intervened.[25] Once at the college, he started wearing Teddy Boy clothes and acquired a reputation for disrupting classes and ridiculing teachers. As a result, he was excluded from the painting class, then the graphic arts course, and was threatened with expulsion for his behaviour, which included sitting on a nude model’s lap during a life drawing class.[26] He failed an annual exam, despite help from fellow student and future wife Cynthia Powell, and was “thrown out of the college before his final year.”[27]

1957–70: The Quarrymen to The Beatles

1957–65: Formation, commercial breakout, and touring years

Monochrome image of John Lennon playing guitar and speaking into a microphone while wearing a grey suit.

Lennon playing with The Beatles in 1964 at the height ofBeatlemania

The Beatles evolved from Lennon’s first band, the Quarrymen. Named after Quarry Bank High School, the group was established by him in September 1956 when he was 15, and began as a skiffle group.[28] By the summer of 1957 the Quarrymen played a “spirited set of songs” made up of half skiffle, and half rock and roll.[29] Lennon first met Paul McCartney at the Quarrymen’s second performance, held in Woolton on 6 July at the St. Peter’s Church garden fête, after which McCartney was asked to join the band.[30]

McCartney says that Aunt Mimi: “was very aware that John’s friends were lower class”, and would often patronise him when he arrived to visit Lennon.[31] According to Paul’s brother Mike, McCartney’s father was also disapproving, declaring Lennon would get his son “into trouble”;[32] although he later allowed the fledgling band to rehearse in the McCartneys’ front room at 20 Forthlin Road.[33][34] During this time, the 18-year-old Lennon wrote his first song, “Hello Little Girl“, a UK top 10 hit for The Fourmost nearly five years later.[35]

George Harrison joined the band as lead guitarist,[36] even though Lennon thought Harrison (at 14 years old) was too young to join the band, so McCartney engineered a second audition on the upper deck of a Liverpool bus, where Harrison played “Raunchy” for Lennon.[37] Stuart Sutcliffe, Lennon’s friend from art school, later joined as bassist.[38] Lennon, McCartney, Harrison and Sutcliffe became “The Beatles” in early 1960. In August that year The Beatles, engaged for a 48-night residency in Hamburg, Germany, and desperately in need of a drummer, asked Pete Best to join them.[39] Lennon was now 19, and his aunt, horrified when he told her about the trip, pleaded with him to continue his art studies instead.[40] After the first Hamburg residency, the band accepted another in April 1961, and a third in April 1962. Like the other band members, Lennon was introduced toPreludin while in Hamburg,[41] and regularly took the drug, as well as amphetamines, as a stimulant during their long, overnight performances.[42]

Brian Epstein, The Beatles’ manager from 1962, had no prior experience of artist management, but nevertheless had a strong influence on their early dress code and attitude on stage.[43] Lennon initially resisted his attempts to encourage the band to present a professional appearance, but eventually complied, saying, “I’ll wear a bloody balloon if somebody’s going to pay me”.[44] McCartney took over on bass after Sutcliffe decided to stay in Hamburg, and drummer Ringo Starr replaced Best, completing the four-piece line-up that would endure until the group’s break-up in 1970. The band’s first single, “Love Me Do“, was released in October 1962 and reached #17 on the British charts. They recorded their debut album, Please Please Me, in under 10 hours on 11 February 1963,[45] a day when Lennon was suffering the effects of a cold,[46] which is evident in the vocal on the last song to be recorded that day, Twist and Shout.[47] The Lennon/McCartney songwriting partnership yielded eight of its fourteen tracks. With few exceptions—one being the album title itself—Lennon had yet to bring his love of wordplay to bear on his song lyrics, saying: “We were just writing songs … pop songs with no more thought of them than that–to create a sound. And the words were almost irrelevant”.[45] In a 1987 interview, McCartney said that the other Beatles idolised John: “He was like our own little Elvis … We all looked up to John. He was older and he was very much the leader; he was the quickest wit and the smartest”.[48]

The Beatles achieved mainstream success in the UK during the beginning of 1963. Lennon was on tour when his first son, Julian, was born in April. During their Royal Variety Showperformance, attended by the Queen Mother and other British royalty, Lennon poked fun at his audience: “For our next song, I’d like to ask for your help. For the people in the cheaper seats, clap your hands … and the rest of you, if you’ll just rattle your jewellery.”[49] After a year of Beatlemania in the UK, the group’s historic February 1964 US debut appearance on The Ed Sullivan Show marked their breakthrough to international stardom. A two-year period of constant touring, moviemaking, and songwriting followed, during which Lennon wrote two books, In His Own Write and A Spaniard in the Works.[50] The Beatles received recognition from the British Establishment when they were appointed Members of the Order of the British Empire in the Queen’s Birthday Honours of 1965.[51]

Lennon grew concerned that fans attending Beatles’ concerts were unable to hear the music above the screaming of fans, and that the band’s musicianship was beginning to suffer as a result.[52] Lennon’s “Help!” expressed his own feelings in 1965: “I meant it … It was me singing ‘help'”.[53] He had put on weight (he would later refer to this as his “Fat Elvis” period),[54]and felt he was subconsciously seeking change.[55] The following January he was unknowingly introduced to LSD when a dentist, hosting a dinner party attended by Lennon, Harrison and their wives, spiked the guests’ coffee with the drug.[56] When they wanted to leave, their host revealed what they had taken, and strongly advised them not to leave the house because of the likely effects. Later, in an elevator at a nightclub, they all believed it was on fire: “We were all screaming … hot and hysterical.”[56] A few months later in March, during an interview with Evening Standard reporter Maureen Cleave, Lennon remarked, “Christianity will go. It will vanish and shrink … We’re more popular than Jesus now—I don’t know which will go first, rock and roll or Christianity.”[57] The comment went virtually unnoticed in England but caused great offence in the US when quoted by a magazine there five months later. The furore that followed—burning of Beatles’ records, Ku Klux Klan activity, and threats against Lennon—contributed to the band’s decision to stop touring.[58]

1966–70: Studio years, break-up and solo work

Lennon (right) performing “All You Need Is Love” with The Beatles in 1967 to 400 million viewers of “Our World“.

Deprived of the routine of live performances after their final commercial concert on 29 August 1966, Lennon felt lost and considered leaving the band.[59] Since his involuntary introduction to LSD in January, he had made increasing use of the drug, and was almost constantly under its influence for much of the year.”[60] According to biographer Ian MacDonald, Lennon’s continuous experience with LSD during the year brought him “close to erasing his identity“.[61] 1967 saw the release of “Strawberry Fields Forever“, hailed by TIME magazine for its “astonishing inventiveness”,[62] and the group’s landmark album Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band, which revealed Lennon’s lyrics contrasting strongly with the simple love songs of the Lennon/McCartney’s early years.

In August, after having been introduced to the Maharishi Mahesh Yogi, the group attended a weekend of personal instruction at hisTranscendental Meditation seminar in Bangor, Wales,[63] and were informed of Epstein’s death during the seminar. “I knew we were in trouble then”, Lennon said later. “I didn’t have any misconceptions about our ability to do anything other than play music, and I was scared”.[64] They later travelled to Maharishi’s ashram in India for further guidance, where they composed most of the songs for The Beatles and Abbey Road.[65]

The anti-war, black comedy How I Won the War, featuring Lennon’s only appearance in a non–Beatles’ full-length film, was shown in cinemas in October 1967.[66] McCartney organised the group’s first post-Epstein project,[67] the self-written, -produced and -directed television filmMagical Mystery Tour, released in December that year. While the film itself proved to be their first critical flop, its soundtrack release, featuring Lennon’s acclaimed, Lewis Carroll-inspired “I am the Walrus“, was a success.[68][69] With Epstein gone, the band members became increasingly involved in business activities, and in February 1968 they formed Apple Corps, a multimedia corporation comprising Apple Records and several other subsidiary companies. Lennon described the venture as an attempt to achieve, “artistic freedom within a business structure”,[70] but his increased drug experimentation and growing preoccupation with Yoko Ono, and McCartney’s own marriage plans, left Apple in need of professional management. Lennon asked Lord Beeching to take on the role, but he declined, advising Lennon to go back to making records. Lennon approached Allen Klein, who had managed The Rolling Stonesand other bands during the British Invasion. Klein was appointed as Apple’s chief executive by Lennon, Harrison and Starr,[71] but McCartney never signed the management contract.[72]

Play sound
Sample of “Give Peace a Chance“, recorded in 1969 during Lennon and Ono’s secondBed-In for Peace. As described by biographer Bill Harry, Lennon wanted to “write a peace anthem that would take over from the song ‘We Shall Overcome‘—and he succeeded … it became the main anti-Vietnam protest song.”[73]

Problems listening to this file? See media help.

At the end of 1968, Lennon featured in the film The Rolling Stones Rock and Roll Circus (not released until 1996) in the role of aDirty Mac band member. The supergroup, comprising Lennon, Eric ClaptonKeith Richards and Mitch Mitchell, also backed a vocal performance by Ono in the film.[74] Lennon and Ono were married on 20 March 1969, and soon released a series of 14lithographs called “Bag One” depicting scenes from their honeymoon,[75] eight of which were deemed indecent and most of which were banned and confiscated.[76] Lennon’s creative focus continued to move beyond The Beatles and between 1968 and 1969 he and Ono recorded three albums of experimental music together: Unfinished Music No.1: Two Virgins[77] (known more for its cover than for its music), Unfinished Music No.2: Life with the Lions and Wedding Album. In 1969 they formed The Plastic Ono Band, releasing Live Peace in Toronto 1969. In protest at Britain’s involvement in the Nigerian Civil War,[78] Lennon returned his MBE medal to the Queen, though this had no effect on his MBE status, which could not be renounced.[79] Between 1969 and 1970 Lennon released the singles “Give Peace a Chance” (widely adopted as an anti-Vietnam-War anthem in 1969),[80] “Cold Turkey” (documenting his withdrawal symptoms after he became addicted to heroin[81]) and “Instant Karma!“.

Lennon left the group in September 1969,[82] and agreed not to inform the media while the band renegotiated their recording contract, but he was outraged that McCartney publicised his own departure on releasing his debut solo album in April 1970. Lennon’s reaction was, “Jesus Christ! He gets all the credit for it!”[83] He later wrote, “I started the band. I disbanded it. It’s as simple as that.”[84] In later interviews with Rolling Stone magazine, he revealed his bitterness towards McCartney, saying, “I was a fool not to do what Paul did, which was use it to sell a record.”[85] He spoke too of the hostility he perceived the other members had towards Ono, and of how he, Harrison, and Starr “got fed up with being sidemen for Paul … After Brian Epstein died we collapsed. Paul took over and supposedly led us. But what is leading us when we went round in circles?”[86]

1970–80: Solo career

1970–72: Initial solo success and activism

In 1970, Lennon and Ono went through primal therapy with Dr. Arthur Janov in Los Angeles, California. Designed to release emotional pain from early childhood, the therapy entailed two half-days a week with Janov for four months; he had wanted to treat the couple for longer, but they felt no need to continue and returned to London.[87] Lennon’s emotional debut solo album, John Lennon/Plastic Ono Band (1970), was received with high praise. Critic Greil Marcus remarked, “John’s singing in the last verse of ‘God’ may be the finest in all of rock.”[88]The album featured the songs “Mother“, in which Lennon confronted his feelings of childhood rejection,[89] and the Dylanesque “Working Class Hero“, a bitter attack against the bourgeois social system which, due to the lyric “you’re still fucking peasants”, fell foul of broadcasters.[90][91] The same year, Tariq Ali‘s revolutionary political views, expressed when he interviewed Lennon, inspired the singer to write “Power to the People“. Lennon also became involved with Ali during a protest against Oz magazine’s prosecution for alleged obscenity. Lennon denounced the proceedings as “disgusting fascism”, and he and Ono (as Elastic Oz Band) released the single “God Save Us/Do the Oz” and joined marches in support of the magazine.[92]

Play sound
Sample of “Imagine“, Lennon’s “most famous post-Beatles’ track.”[93] Like “Give Peace a Chance”, the song became an anti-war anthem, but its lyrics offended religious groups. Lennon’s explanation was, “If you can imagine a world at peace, with no denominations of religion—not without religion, but without this ‘my God is bigger than your God’ thing—then it can be true.”[94]

Problems listening to this file? See media help.

With Lennon’s next album, Imagine (1971), critical response was more guarded. Rolling Stone reported that “it contains a substantial portion of good music” but warned of the possibility that “his posturings will soon seem not merely dull but irrelevant”.[95] The album’s title track would become an anthem for anti-war movements,[96] while another, “How Do You Sleep?“, was a musical attack on McCartney in response to lyrics from Ram that Lennon felt, and McCartney later confirmed,[97] were directed at him and Ono. However, Lennon softened his stance in the mid-70s and said he had written “How Do You Sleep?” about himself.[98] He said in 1980: “I used my resentment against Paul … to create a song … not a terrible vicious horrible vendetta … I used my resentment and withdrawing from Paul and The Beatles, and the relationship with Paul, to write ‘How Do You Sleep’. I don’t really go ’round with those thoughts in my head all the time”.[99]

Lennon and Ono moved to New York in August 1971, and in December released “Happy Xmas (War Is Over)“.[100] To advertise the single, they paid for billboards in 12 cities around the world which declared, in the national language, “WAR IS OVER—IF YOU WANT IT”.[101] The new year saw the Nixon Administration take what it called a “strategic counter-measure” against Lennon’s anti-war propaganda, embarking on what would be a four-year attempt to deport him: embroiled in a continuing legal battle, he was denied permanent residency in the US until 1976.[102]

Recorded as a collaboration with Ono and with backing from the New York band Elephant’s MemorySome Time in New York City was released in 1972. Containing songs about women’s rights, race relations, Britain’s role in Northern Ireland, and Lennon’s problems obtaining a green card,[103] the album was poorly received—unlistenable, according to one critic.[104] “Woman Is the Nigger of the World“, released as a US single from the album the same year, was televised on 11 May, on The Dick Cavett Show. Many radio stations refused to broadcast the song because of the word “nigger”.[105] Lennon and Ono gave two benefit concerts with Elephant’s Memory and guests in New York in aid of patients at the Willowbrook State School mental facility.[106] Staged at Madison Square Garden on 30 August 1972, they were his last full-length concert appearances.[107]

1973–75: “Lost weekend”

While Lennon was recording Mind Games (1973), he and Ono decided to separate. The ensuing eighteen-month period apart, which he later called his “lost weekend”,[108] was spent in Los Angeles and New York in the company of May PangMind Games, credited to the “Plastic U.F.Ono Band”, was released in November 1973. Lennon also contributed “I’m the Greatest“, to Starr’s album Ringo (1973), released the same month. (an alternate take, from the same 1973 Ringo sessions, with Lennon providing a guide vocal, appears on John Lennon Anthology).

In early 1974, Lennon was drinking heavily and his alcohol-fuelled antics with Harry Nilsson made headlines. Two widely publicised incidents occurred at The Troubadour club in March, the first when Lennon placed a menstruation “towel” on his forehead and scuffled with a waitress, and the second, two weeks later, when Lennon and Nilsson were ejected from the same club after heckling the Smothers Brothers.[109] Lennon decided to produce Nilsson’s album Pussy Cats and Pang rented an Los Angeles beach house for all the musicians[110] but after a month of further debauchery, with the recording sessions in chaos, Lennon moved to New York with Pang to finish work on the album. In April, Lennon had produced the Mick Jaggersong “Too Many Cooks (Spoil the Soup)” which was, for contractual reasons, to remain unreleased for more than 30 years. Pang supplied the recording for its eventual inclusion on The Very Best of Mick Jagger (2007).[111]

Settled back in New York, Lennon recorded the album Walls and Bridges. Released in October 1974, it yielded his only number-one single in his lifetime, “Whatever Gets You Thru the Night“, featuring Elton John on backing vocals and piano.[112] A second single from the album, “#9 Dream“, followed before the end of the year. Starr’s Goodnight Vienna (1974) again saw assistance from Lennon, who wrote the title track and played piano.[113] On 28 November, Lennon made a surprise guest appearance at Elton John’s Thanksgiving concert atMadison Square Garden, in fulfilment of his promise to join the singer in a live show if “Whatever Gets You Thru the Night”—a song whose commercial potential Lennon had doubted—reached number one. Lennon performed the song along with “Lucy in the Sky with Diamonds” and “I Saw Her Standing There“, which he introduced as “a song by an old estranged fiancee of mine called Paul”.[114]

Lennon co-wrote “Fame“, David Bowie‘s first US number one, and provided guitar and backing vocals for the January 1975 recording.[115] The same month, Elton John topped the charts with his cover of “Lucy in the Sky with Diamonds”, featuring Lennon on guitar and back-up vocals. He and Ono were reunited shortly afterwards. Lennon released Rock ‘n’ Roll (1975), an album of cover songs, in February. “Stand By Me“, taken from the album and a US and UK hit, became his last single for five years.[116] He made what would be his final stage appearance in the ATV special A Salute to Lew Grade, recorded on 18 April and televised in June.[117] Playing acoustic guitar, and backed by an eight-piece band, Lennon performed two songs from Rock ‘n’ Roll (“Stand By Me”, which was not broadcast, and “Slippin’ and Slidin'”) followed by “Imagine”.[117]

1975–80: Retirement and return

With the birth of his second son Sean on 9 October 1975, Lennon took on the role of househusband, beginning what would be a five-year hiatus from the music industry during which he gave all his attention to his family.[13] Within the month, he fulfilled his contractual obligation to EMI/Capitol for one more album by releasing Shaved Fish, a compilation album of previously recorded tracks.[13] He devoted himself to Sean, rising at 6 am daily to plan and prepare his meals and to spend time with him.[118] He wrote “Cookin’ (In the Kitchen of Love)” for Starr’s Ringo’s Rotogravure (1976), performing on the track in June in what would be his last recording session until 1980.[119] He formally announced his break from music in Tokyo in 1977, saying, “we have basically decided, without any great decision, to be with our baby as much as we can until we feel we can take time off to indulge ourselves in creating things outside of the family.”[120] During his career break he created several series of drawings, and drafted a book containing a mix of autobiographical material and what he termed “mad stuff”,[121] all of which would be published posthumously.

He emerged from retirement in October 1980 with the single “(Just Like) Starting Over“, followed the next month by the album Double Fantasy, which contained songs written during a journey to Bermuda on a 43-foot sailing boat the previous June,[122] that reflected Lennon’s fulfillment in his new-found stable family life.[123] Sufficient additional material was recorded for a planned follow-up album Milk and Honey (released posthumously in 1984).[124] Released jointly with Ono, Double Fantasy was not well received, drawing comments such as Melody Makers “indulgent sterility … a godawful yawn”.[125]

8 December 1980: Death

Main article: Death of John Lennon

At around 10:50 pm on 8 December 1980, as Lennon and Ono returned to their New York apartment in The DakotaMark David Chapman shot Lennon in the back four times at the entrance to the building. Lennon was taken to the emergency room of the nearby Roosevelt Hospital and was pronounced dead on arrival at 11:07 pm.[126] Earlier that evening, Lennon had autographed a copy of Double Fantasy for Chapman.[127]

Ono issued a statement the next day, saying “There is no funeral for John”, ending it with the words, “John loved and prayed for the human race. Please pray the same for him.”[128] His body was cremated at Ferncliff Cemetery in Hartsdale, New York. Ono scattered his ashes in New York’s Central Park, where the Strawberry Fields memorial was later created.[129]Chapman pleaded guilty to second-degree murder and was sentenced to 20 years to life; as of 2011, he remains in prison, having been denied parole six times.[130][131]

Personal relationships

Cynthia Lennon

Further information: Cynthia Lennon

John Lennon and Cynthia Powell in 1959

Lennon and Cynthia Powell met in 1957 as fellow students at the Liverpool College of Art.[132] Although being scared of Lennon’s attitude and appearance, she heard that he was obsessed with French actress Brigitte Bardot, so she dyed her hair blonde. Lennon asked her out, but when she said that she was engaged, he screamed out, “I didn’t ask you to fuckin’ marry me, did I?[133] She often accompanied him to Quarrymen gigs and travelled to Hamburg with McCartney’s girlfriend at the time to visit him.[134] Lennon, jealous by nature, eventually grew possessive and often terrified Powell with his anger and physical violence.[135] Lennon later said that until he met Ono, he had never questioned his chauvinistic attitude to women. The Beatles’ song “Getting Better“, he said, told his own story, “I used to be cruel to my woman, and physically—any woman. I was a hitter. I couldn’t express myself and I hit. I fought men and I hit women. That is why I am always on about peace”.[13]

Recalling his reaction in July 1962 on learning that Cynthia was pregnant, Lennon said, “There’s only one thing for it Cyn. We’ll have to get married.”[136] The couple were married on 23 August at the Mount Pleasant Register Office in Liverpool. His marriage began just as Beatlemania took hold across the UK. He performed on the evening of his wedding day, and would continue to do so almost daily from then on.[137] Epstein, fearing that fans would be alienated by the idea of a married Beatle, asked the Lennons to keep their marriage secret. Julian was born on 8 April 1963; Lennon was on tour at the time and did not see his son until three days later.[138]

Cynthia attributes the start of the marriage breakdown to LSD, and as a result, she felt that he slowly lost interest in her.[139] When the group travelled by train to Bangor, Wales, in 1967, for the Maharishi Yogi’s Transcendental Meditation seminar, a policeman did not recognise her and stopped her from boarding. She later recalled how the incident seemed to symbolize the ending of their marriage.[140] After arriving home at Kenwood, and finding Lennon with Ono, Cynthia left the house to stay with friends. Alexis Mardas later claimed to have slept with her that night, and a few weeks later he informed her that Lennon was seeking a divorce and custody of Julian on grounds of her adultery with him. After negotiations, Lennon capitulated and agreed to her divorcing him on the same grounds. The case was settled out of court, with Lennon giving her £100,000, and custody of Julian.[141]

Brian Epstein

Further information: Brian Epstein

The Beatles were performing at Liverpool’s Cavern Club in 1962, when all four Beatles were introduced to Epstein after a midday concert. Epstein was homosexual. According to biographer Philip Norman, one of his reasons for wanting to manage the group was that he was physically attracted to Lennon. Almost as soon as Julian was born, Lennon went on holiday to Spain with Epstein, leading to speculation about their relationship. Questioned about it later, Lennon said, “Well, it was almost a love affair, but not quite. It was never consummated. But it was a pretty intense relationship. It was my first experience with a homosexual that I was conscious was homosexual. We used to sit in a café in Torremolinoslooking at all the boys and I’d say, ‘Do you like that one? Do you like this one?’ I was rather enjoying the experience, thinking like a writer all the time: I am experiencing this.”[142] Soon after their return from Spain, at McCartney’s twenty-first birthday party in June 1963, Lennon physically attacked Cavern Club MC Bob Wooler for saying “How was your honeymoon, John?” The MC, known for his wordplay and affectionate but cutting remarks, was making a joke,[143] but ten months had passed since Lennon’s marriage, and the honeymoon, deferred, was still two months in the future.[144] To Lennon, who was intoxicated with alcohol at the time, the matter was simple: “He called me a queer so I battered his bloody ribs in”.[145]

Lennon delighted in mocking Epstein for his homosexuality and for the fact that he was Jewish.[146] When Epstein invited suggestions for the title of his autobiography, Lennon offeredQueer Jew; on learning of the eventual title, A Cellarful of Noise, he parodied, “More like A Cellarful of Boys“.[147] He demanded of a visitor to Epstein’s flat, “Have you come to blackmail him? If not, you’re the only bugger in London who hasn’t.”[146] During the recording of “Baby, You’re a Rich Man“, he sang altered choruses of “Baby, you’re a rich fag Jew”.[148][149]

Julian Lennon

Further information: Julian Lennon

Lennon’s first son, Julian, was born as his commitments with The Beatles intensified at the height of Beatlemania during his marriage to Cynthia. Lennon was touring with The Beatles when Julian was born on 8 April 1963. Julian’s birth, like his mother Cynthia’s marriage to Lennon, was kept secret because Epstein was convinced public knowledge of such things would threaten The Beatles’ commercial success. Julian recalls how some four years later, as a small child in Weybridge, “I was trundled home from school and came walking up with one of my watercolour paintings. It was just a bunch of stars and this blonde girl I knew at school. And Dad said, ‘What’s this?’ I said, ‘It’s Lucy in the sky with diamonds.'”[150] Lennon used it as the title of a Beatles’ song, and though it was later reported to have been derived from the initials LSD, Lennon insisted, “It’s not an acid song.”[151] McCartney corroborated Lennon’s explanation that Julian innocently came up with the name.[151] Lennon was distant from Julian, who felt closer to McCartney than to his father. During a car journey to visit Cynthia and Julian during Lennon’s divorce, McCartney composed a song, “Hey Jules”, to comfort him. It would evolve into The Beatles song “Hey Jude“. Lennon later said, “That’s his best song. It started off as a song about my son Julian … he turned it into ‘Hey Jude’. I always thought it was about me and Yoko but he said it wasn’t.”[152]

Lennon’s relationship with Julian was already strained, and after Lennon and Ono’s 1971 move to New York, Julian would not see his father again until 1973.[153] With Pang’s encouragement, it was arranged for him (and his mother) to visit Lennon in Los Angeles, where they went to Disneyland.[154] Julian started to see his father regularly, and Lennon gave him a drumming part on a Walls and Bridges track.[155] He bought Julian a Gibson Les Paul guitar and other instruments, and encouraged his interest in music by demonstrating guitar chord techniques.[155] Julian recalls that he and his father “got on a great deal better” during the time he spent in New York: “We had a lot of fun, laughed a lot and had a great time in general.”[156]

In a Playboy interview with David Sheff shortly before his death, Lennon said, “Sean was a planned child, and therein lies the difference. I don’t love Julian any less as a child. He’s still my son, whether he came from a bottle of whiskey or because they didn’t have pills in those days. He’s here, he belongs to me, and he always will.” He said he was trying to re-establish a connection with the then 17-year-old, and confidently predicted, “Julian and I will have a relationship in the future.”[13] After his death it was revealed that he had left Julian very little in his will.[157]

Yoko Ono

Further information: Yoko Ono

John Lennon & Yoko Ono by Jack Mitchell, 1980

Two versions exist of how Lennon met Ono. According to the first, on 9 November 1966 Lennon went to the Indica Gallery in London, where Ono was preparing her conceptual art exhibit, and they were introduced by gallery owner John Dunbar.[158] Lennon was intrigued by Ono’s “Hammer A Nail”: patrons hammered a nail into a wooden board, creating the art piece. Although the exhibition had not yet begun, Lennon wanted to hammer a nail into the clean board, but Ono stopped him. Dunbar asked her, “Don’t you know who this is? He’s a millionaire! He might buy it.” Ono had supposedly not heard of The Beatles, but relented on condition that Lennon pay her five shillings, to which Lennon replied, “I’ll give you an imaginary five shillings and hammer an imaginary nail in.”[13] The second version, told by McCartney, is that in late 1965, Ono was in London compiling original musical scores for a book John Cage was working on, Notations, but McCartney declined to give her any of his own manuscripts for the book, suggesting that Lennon might oblige. When asked, Lennon gave Ono the original handwritten lyrics to “The Word“.[159]

Ono began telephoning and calling at Lennon’s home, and when his wife asked for an explanation, he explained that Ono was only trying to obtain money for her “avant-garde bullshit”.[160] In May 1968, while his wife was on holiday in Greece, Lennon invited Ono to visit. They spent the night recording what would become the Two Virgins album, after which, he said, they “made love at dawn.”[161] When Lennon’s wife returned home she found Ono wearing her bathrobe and drinking tea with Lennon who simply said, “Oh, hi.”[162] Ono became pregnant in 1968 and miscarried a male child they named John Ono Lennon II on 21 November 1968,[129] a few weeks after Lennon’s divorce from Cynthia was granted.[163]

During Lennon’s last two years in The Beatles, he and Ono began public protests against the Vietnam War. They were married in Gibraltar on 20 March 1969, and spent their honeymoon in Amsterdam campaigning with a week-long Bed-In for peace. They planned another Bed-In in the United States, but were denied entry,[164] so held one instead at the Queen Elizabeth Hotel in Montreal, where they recorded “Give Peace a Chance”.[165] They often combined advocacy with performance art, as in their “Bagism“, first introduced during a Vienna press conference. Lennon detailed this period in The Beatles’ song “The Ballad of John and Yoko“.[166] Lennon changed his name by deed poll on 22 April 1969, adding “Ono” as a middle name. The brief ceremony took place on the roof of the Apple Corps building, made famous three months earlier by The Beatles’ Let It Be rooftop concert. Although he used the name John Ono Lennon thereafter, official documents referred to him as John Winston Ono Lennon, since he was not permitted to revoke a name given at birth.[167] After Ono was injured in a car accident, Lennon arranged for a king-sized bed to be brought to the recording studio as he worked on The Beatles’ last album, Abbey Road.[168] To escape the acrimony of the band’s break-up, Ono suggested they move permanently to New York, which they did on 31 August 1971.

They first lived in the St. Regis Hotel on 5th Avenue, East 55th Street, then moved to a street-level flat at 105 Bank Street, Greenwich Village, on 16 October 1971. After a robbery, they relocated to the more secure Dakota at 1 West 72nd Street, in May 1973.[169]

May Pang

Further information: May Pang
Profile picture of a bespectacled Asian woman in her early fifties. She has long red hair, and shows a toothy smile.

May Pang

ABKCO Industries, formed in 1968 by Allen Klein as an umbrella company to ABKCO Records, recruited May Pang as a receptionist in 1969. Through involvement in a project with ABKCO, Lennon and Ono met her the following year. She became their personal assistant. After she had been working with the couple for three years, Ono confided that she and Lennon were becoming estranged from one another. She went on to suggest that Pang should begin a physical relationship with Lennon, telling her, “He likes you a lot.” Pang, 22, astounded by Ono’s proposition, eventually agreed to become Lennon’s companion. The pair soon moved to California, beginning an eighteen-month period he later called his “lost weekend“.[108] In Los Angeles, Pang encouraged Lennon to develop regular contact with Julian, whom he had not seen for two years. He also rekindled friendships with Starr, McCartney, Beatles’ roadie Mal Evans, and Harry Nilsson. Whilst drinking with Nilsson, after misunderstanding something Pang said, Lennon attempted to strangle her, relenting only when physically restrained by Nilsson.[170]

On moving to New York, they prepared a spare room in their newly rented apartment for Julian to visit.[170] Lennon, hitherto inhibited by Ono in this regard, began to reestablish contact with other relatives and friends. By December he and Pang were considering a house purchase, and he was refusing to accept Ono’s telephone calls. In January 1975, he agreed to meet Ono—who said she had found a cure for smoking—but after the meeting failed to return home or call Pang. When Pang telephoned the next day, Ono told her Lennon was unavailable, being exhausted after a hypnotherapy session. Two days later, Lennon reappeared at a joint dental appointment, stupefied and confused to such an extent that Pang believed he had been brainwashed. He told her his separation from Ono was now over, though Ono would allow him to continue seeing her as his mistress.[171]

Sean Lennon

Further information: Sean Lennon

When Lennon and Ono were reunited, she became pregnant, but having previously suffered three miscarriages in her attempt to have a child with Lennon, she said she wanted an abortion. She agreed to allow the pregnancy to continue on condition that Lennon adopt the role of househusband; this he agreed to do.[172] Sean was born on 9 October 1975, Lennon’s 35th birthday, delivered by Caesarean section. Lennon’s subsequent career break would span five years. He had a photographer take pictures of Sean every day of his first year, and created numerous drawings for him, posthumously published as Real Love: The Drawings for Sean. Lennon later proudly declared, “He didn’t come out of my belly but, by God, I made his bones, because I’ve attended to every meal, and to how he sleeps, and to the fact that he swims like a fish.”[173]

Former Beatles

Further information: Paul McCartneyGeorge Harrison, and Ringo Starr
Black-and-white picture of four young men outdoors in front of a staircase, surrounded by a large assembled crowd. All four are waving to the crowd.

Lennon, left, and the rest of The Beatlesarriving in the US in 1964

Although his friendship with Starr remained consistently warm during the years following The Beatles’ break-up in 1970, Lennon’s relationship with McCartney and Harrison varied. He was close to Harrison initially, but the two drifted apart after Lennon moved to America. When Harrison was in New York for his December 1974 Dark Horse tour, Lennon agreed to join him on stage, but failed to appear after an argument over Lennon’s refusal to sign an agreement that would finally dissolve The Beatles’ legal partnership. (Lennon eventually signed the papers while holidaying in Florida with Pang and Julian.[174]) Harrison incensed Lennon in 1980 when he published an autobiography that made little mention of him. Lennon told Playboy, “I was hurt by it. By glaring omission … my influence on his life is absolutely zilch … he remembers every two-bit sax player or guitarist he met in subsequent years. I’m not in the book.”[175]

Lennon’s most intense feelings were reserved for McCartney. In addition to attacking him through the lyrics of “How Do You Sleep?“, Lennon argued with him through the press for three years after the group split. The two later began to reestablish something of the close friendship they had once known, and in 1974 even played music together again, before growing apart once more. Lennon said that during McCartney’s final visit, in April 1976, they watched the episode of Saturday Night Live in which Lorne Michaels made a $3,000 cash offer to get The Beatles to reunite on the show.[176] The pair considered going to the studio to make a joke appearance, attempting to claim their share of the money, but were too tired.[13] Lennon summarised his feelings towards McCartney in an interview three days before his death: “Throughout my career, I’ve selected to work with…only two people: Paul McCartney and Yoko Ono….That ain’t bad picking.”[177]

Along with his estrangement from McCartney, Lennon always felt a musical competitiveness with him and kept an ear on his music. During his five-year career break he was content to sit back so long as McCartney was producing what Lennon saw as mediocre “product”.[178] When McCartney released “Coming Up” in 1980, the year Lennon returned to the studio and the last year of his life, he took notice. “It’s driving me crackers!” he jokingly complained, because he could not get the tune out of his head.[178] Asked the same year whether the group were dreaded enemies or the best of friends, he replied that they were neither, and that he had not seen any of them in a long time. But he also said, “I still love those guys. The Beatles are over, but John, Paul, George and Ringo go on.”[13]

Political activism

Further information: Bed-In and Bagism
Lennon and Ono sit in front of flowers and placards bearing the word "peace." Lennon is only partly visible, and he holds an acoustic guitar. Ono wears a white dress, and there is a hanging microphone in front of her. In the foreground of the image are three men, one of them a guitarist facing away, and a woman.

Recording “Give Peace a Chance” during the Bed-In for Peace at the Queen Elizabeth Hotel, Montreal

Lennon and Ono used their honeymoon as what they termed a “Bed-In for Peace” at the Amsterdam Hilton Hotel; the March 1969 event attracted worldwide media ridicule.[179][180] At a second Bed-In three months later at the Queen Elizabeth Hotel in Montreal[181] Lennon wrote and recorded “Give Peace a Chance”. Released as a single, it was quickly taken up as an anti-war anthem and sung by a quarter of a million demonstrators against the Vietnam War in Washington, DC, on 15 October, the second Vietnam Moratorium Day.[80][182]

Later that year, Lennon and Ono supported efforts by the family of James Hanratty, hanged for murder in 1962, to prove his innocence.[183]Those who had condemned Hanratty were, according to Lennon, “the same people who are running guns to South Africa and killing blacks in the streets. … The same bastards are in control, the same people are running everything, it’s the whole bullshit bourgeois scene.”[184] In London, Lennon and Ono staged a “Britain Murdered Hanratty” banner march and a “Silent Protest For James Hanratty”,[78] and produced a 40-minute documentary on the case. At an appeal hearing years later, Hanratty’s conviction was upheld.[185]

Lennon and Ono showed their solidarity with the Clydeside UCS workers’ work-in of 1971 by sending a bouquet of red roses and a cheque for £5,000.[186] On moving to New York City in August that year, they befriended two of the Chicago SevenYippie peace activists Jerry Rubin andAbbie Hoffman.[187] Another peace activist, John Sinclair, poet and co-founder of the White Panther Party, was serving ten years in prison for selling two joints of marijuana after previous convictions for possession of the drug.[188] In December 1971 at Ann Arbor, Michigan, 20,000 people attended the “John Sinclair Freedom Rally“, a protest and benefit concert with contributions from Lennon, Stevie WonderBob SegerBobby Seale of the Black Panther Party, and others.[189] Lennon and Ono, backed by David Peel and Rubin, performed an acoustic set of four songs from their forthcoming Some Time in New York City album including “John Sinclair”, whose lyrics called for his release. The day before the rally, Michigan State had drastically reduced the penalties for Sinclair’s crimes and three days after the rally, he was released on bail.[190] The performance was recorded and two of the tracks later appeared on John Lennon Anthology (1998).[191]

Following the Bloody Sunday incident in Northern Ireland in 1972, in which 13 unarmed civil rights protesters were shot dead by the British Army, Lennon said that given the choice between the army and the IRA (who were not involved in the incident) he would side with the latter. Lennon and Ono wrote two songs protesting British presence and actions in Ireland for their Some Time in New York City album: “Luck of the Irish” and “Sunday Bloody Sunday”. In 2000, David Shayler, a former member of Britain’s domestic security service MI5 suggested that Lennon had given money to the IRA though this was swiftly denied by Ono.[192] Biographer Bill Harry records that following Bloody Sunday, Lennon and Ono financially supported the production of the film The Irish Tapes, a political documentary with a republican slant.[193]

According to FBI surveillance reports (and confirmed by Tariq Ali in 2006) Lennon was sympathetic to the International Marxist Group, a Trotskyist group formed in Britain in 1968.[194]However, the FBI considered Lennon to have limited effectiveness as a revolutionary since he was “constantly under the influence of narcotics”.[195]

Deportation attempt

Following the impact of “Give Peace a Chance” and “Happy Xmas (War is Over)“, both strongly associated with the anti–Vietnam War movement, the Nixon administration, hearing rumours of Lennon’s involvement in a concert to be held in San Diego at the same time as the Republican National Convention,[196] tried to have him deported. Nixon believed that Lennon’s anti-war activities could cost him his re-election;[197] Republican Senator Strom Thurmond suggested in a February 1972 memo that “deportation would be a strategic counter-measure” against Lennon.[198] The next month the United States Immigration and Naturalization Service (INS) began deportation proceedings, arguing that his 1968 misdemeanor conviction for cannabis possession in London had made him ineligible for admission to the United States. Lennon spent the next three and a half years in and out of deportation hearings until on 8 October 1975, when a court of appeals barred the deportation attempt, stating ” … the courts will not condone selective deportation based upon secret political grounds.”[199][103] While the legal battle continued, Lennon attended rallies and made television appearances. Lennon and Ono co-hosted the Mike Douglas Show for a week in February 1972, introducing guests such as Jerry Rubin and Bobby Seale to mid-America.[200] In 1972, Bob Dylan wrote a letter to the INS defending Lennon, stating:

John and Yoko add a great voice and drive to the country’s so-called art institution. They inspire and transcend and stimulate and by doing so, only help others to see pure light and in doing that, put an end to this dull taste of petty commercialism which is being passed off as Artist Art by the overpowering mass media. Hurray for John and Yoko. Let them stay and live here and breathe. The country’s got plenty of room and space. Let John and Yoko stay![201][202]

On 23 March 1973, Lennon was ordered to leave the US within 60 days.[203] Ono, meanwhile, was granted permanent residence. In response, Lennon and Ono held a press conference on 1 April 1973 at the New York City Bar Association, where they announced the formation of the state of Nutopia; a place with “no land, no boundaries, no passports, only people”.[204]Waving the white flag of Nutopia (two handkerchiefs), they asked for political asylum in the US. The press conference was filmed, and would later appear in the 2006 documentary The U.S. vs. John Lennon.[205] Lennon’s Mind Games (1973) included the track “Nutopian International Anthem”, which comprised three seconds of silence.[206] Soon after the press conference, Nixon’s involvement in a political scandal came to light, and in June the Watergate hearings began in Washington, DC. They led to the president’s resignation 14 months later. Nixon’s successor, Gerald Ford, showed little interest in continuing the battle against Lennon, and the deportation order was overturned in 1975. The following year, his US immigration status finally resolved, Lennon received his “green card” certifying his permanent residency, and when Jimmy Carter was inaugurated as president in January 1977, Lennon and Ono attended the Inaugural Ball.[207]

FBI surveillance and declassified documents

After Lennon’s death, historian Jon Wiener filed a Freedom of Information Act request for FBI files documenting the Bureau’s role in the deportation attempt.[208] The FBI admitted it had 281 pages of files on Lennon, but refused to release most of them on the grounds that they contained national security information. In 1983, Wiener sued the FBI with the help of theAmerican Civil Liberties Union of Southern California. It took 14 years of litigation to force the FBI to release the withheld pages.[209] The ACLU, representing Wiener, won a favourable decision in their suit against the FBI in the Ninth Circuit in 1991.[210] The Justice Department appealed the decision to the Supreme Court in April 1992, but the court declined to review the case.[211] In 1997, respecting President Bill Clinton‘s newly instigated rule that documents should be withheld only if releasing them would involve “foreseeable harm”, the Justice Department settled most of the outstanding issues outside court by releasing all but 10 of the contested documents.[211] Wiener published the results of his 14-year campaign in January 2000. Gimme Some Truth: The John Lennon FBI Files contained facsimiles of the documents, including “lengthy reports by confidential informants detailing the daily lives of anti-war activists, memos to the White House, transcripts of TV shows on which Lennon appeared, and a proposal that Lennon be arrested by local police on drug charges”.[212] The story is told in the documentary The U.S. vs. John Lennon. The final 10 documents in Lennon’s FBI file, which reported on his ties with London anti-war activists in 1971 and had been withheld as containing “national security information provided by a foreign government under an explicit promise of confidentiality”, were released in December 2006. They contained no indication that the British government had regarded Lennon as a serious threat; one example of the released material was a report that two prominent British leftists had hoped Lennon would finance a left-wing bookshop and reading room.[213]

Writing and art

Lennon’s biographer Bill Harry writes that Lennon began drawing and writing creatively at an early age with the encouragement of his uncle. He collected his stories, poetry, cartoons, and caricatures in a Quarry Bank High School exercise book that he called the Daily Howl. The drawings were often of crippled people, and the writings satirical, and throughout the book was an abundance of wordplay. According to classmate Bill Turner, Lennon created the Daily Howl to amuse his best friend and later Quarrymen band mate, Pete Shotton, to whom he would show his work before he let anyone else see it. Turner said that Lennon “had an obsession for Wigan Pier. It kept cropping up”, and in Lennon’s story A Carrot In A Potato Mine, “the mine was at the end of Wigan Pier.” Turner described how one of Lennon’s cartoons depicted a bus stop sign annotated with the question, “Why?”. Above was a flying pancake, and below, “a blind man wearing glasses leading along a blind dog—also wearing glasses”.[214]

Lennon’s love of wordplay and nonsense with a twist found a wider audience when he was 24. Harry writes that In His Own Write (1964) was published after “Some journalist who was hanging around The Beatles came to me and I ended up showing him the stuff. They said, ‘Write a book’ and that’s how the first one came about”. Like the Daily Howl it contained a mix of formats including short stories, poetry, plays and drawings. One story, “Good Dog Nigel”, tells the tale of “a happy dog, urinating on a lamp post, barking, wagging his tail—until he suddenly hears a message that he will be killed at three o’clock”. The Times Literary Supplement considered the poems and stories “remarkable … also very funny … the nonsense runs on, words and images prompting one another in a chain of pure fantasy”. Book Week reported, “This is nonsense writing, but one has only to review the literature of nonsense to see how well Lennon has brought it off. While some of his homonyms are gratuitous word play, many others have not only double meaning but a double edge.” Lennon was not only surprised by the positive reception, but that the book was reviewed at all, and suggested that readers “took the book more seriously than I did myself. It just began as a laugh for me”.[215]

In combination with A Spaniard in the Works (1965), In His Own Write formed the basis of the stage play The John Lennon Play: In His Own Write, co-adapted by Victor Spinetti andAdrienne Kennedy. After negotiations between Lennon, Spinetti and the artistic director of the National TheatreSir Laurence Olivier, the play opened at the Old Vic in 1968. Lennon and Ono attended the opening night performance, their second public appearance together to date.[216] After Lennon’s death, further works were published, including Skywriting by Word of Mouth (1986); Ai: Japan Through John Lennon’s Eyes: A Personal Sketchbook (1992), with Lennon’s illustrations of the definitions of Japanese words; and Real Love: The Drawings for Sean (1999). The Beatles Anthology (2000) also presented examples of his writings and drawings.

Musicianship

Instruments played

Lennon’s Les Paul Jr.

His playing of a mouth organ during a bus journey to visit his cousin in Scotland caught the driver’s ear. Impressed, the driver told Lennon of a harmonica he could have if he came to Edinburgh the following day, where one had been stored in the bus depot since a passenger left it on a bus.[217]The professional instrument quickly replaced Lennon’s toy. He would continue to play harmonica, often using the instrument during The Beatles’ Hamburg years, and it became a signature sound in the group’s early recordings. His mother taught him how to play the banjo, later buying him an acoustic guitar. At 16, he played rhythm guitar with the Quarrymen.[218] As his career progressed, he played a variety of electric guitars, predominantly the Rickenbacker 325Epiphone Casino and Gibson J-160E, and, from the start of his solo career, the Gibson Les Paul Junior.[219][220] Occasionally he played a six-string bass guitar, the Fender Bass VI, providing bass on some Beatles’ numbers that occupied McCartney with another instrument.[221] His other instrument of choice was the piano, on which he composed many songs, including “Imagine”, described as his best-known solo work.[222] His jamming on a piano with McCartney in 1963 led to the creation of The Beatles’ first US number one, “I Want to Hold Your Hand“.[223]In 1964, he became one of the first British musicians to acquire a Mellotron keyboard, though it was not heard on a Beatles’ recording until “Strawberry Fields Forever” in late 1966.[224]

Vocal style

When Lennon recorded “Twist and Shout“, the final track during the mammoth one-day session that captured the band’s 1963 debut album Please Please Me, his voice, already compromised by a cold, came close to giving out. Lennon said, “I couldn’t sing the damn thing, I was just screaming.”[225] In the words of biographer Barry Miles, “Lennon simply shredded his vocal cords in the interests of rock ‘n’ roll.”[226] The Beatles’ producer, George Martin, tells how Lennon “had an inborn dislike of his own voice which I could never understand. He was always saying to me: ‘DO something with my voice! … put something on it … Make itdifferent.'”[227] Martin obliged, often using double-tracking and other techniques. Music critic Robert Christgau says that Lennon’s “greatest vocal performance … from scream to whine, is modulated electronically … echoed, filtered, and double tracked.”[228]

As his Beatles’ era segued into his solo career, his singing voice found a widening range of expression. Biographer Chris Gregory writes that Lennon was, “tentatively beginning to expose his insecurities in a number of acoustic-led ‘confessional’ ballads, so beginning the process of ‘public therapy’ that will eventually culminate in the primal screams of ‘Cold Turkey’ and the cathartic John Lennon/Plastic Ono Band.”[229] David Stuart Ryan notes Lennon’s vocal delivery to range from, “extreme vulnerability, sensitivity and even naivety” to a hard “rasping” style.[230] Wiener too describes contrasts, saying the singer’s voice can be “at first subdued; soon it almost cracks with despair”[231] Music historian Ben Urish recalls hearing The Beatles’ Ed Sullivan Show performance of “This Boy” played on the radio a few days after Lennon’s murder: “As Lennon’s vocals reached their peak … it hurt too much to hear him scream with such anguish and emotion. But it was my emotions I heard in his voice. Just like I always had.”[232]

Legacy

John Lennon Peace Monument, Liverpool

Music historians Schinder and Schwartz, writing of the transformation in popular music styles that took place between the 1950s and the 1960s, say that The Beatles’ influence cannot be overstated: having “revolutionized the sound, style, and attitude of popular music and opened rock and roll’s doors to a tidal wave of British rock acts”, the group then “spent the rest of the 1960s expanding rock’s stylistic frontiers”.[233] Liam Gallagher, his group Oasis among the many who acknowledge the band’s influence, identifies Lennon as a hero; in 1999 he named his first child Lennon Gallagher in tribute.[234] On National Poetry Day in 1999, after conducting a poll to identify the UK’s favourite song lyric, the BBC announced “Imagine” the winner.[94]

In a 2006 Guardian article, Jon Wiener wrote: “For young people in 1972, it was thrilling to see Lennon’s courage in standing up to [US President] Nixon. That willingness to take risks with his career, and his life, is one reason why people still admire him today.”[235] Whilst for music historians Urish and Bielen, Lennon’s most significant effort was “the self-portraits … in his songs [which] spoke to, for, and about, the human condition.”[236]

Lennon continues to be mourned throughout the world and has been the subject of numerous memorials and tributes. In 2010, on what would have been Lennon’s 70th birthday, the John Lennon Peace Monument was unveiled in Chavasse Park, Liverpool, by Cynthia and Julian Lennon.[237] The sculpture entitled ‘Peace & Harmony’ exhibits peace symbols and carries the inscription “Peace on Earth for the Conservation of Life · In Honour of John Lennon 1940–1980”.

Awards and sales

Statue of Lennon, bespectacled with long hair, on a park bench. There are red flowers in the statue's lap, and numerous trees are visible in the background.

Statue in John Lennon Park, Havana, Cuba

The Lennon/McCartney songwriting partnership is regarded as one of the most influential and successful of the 20th century.[citation needed] As performer, writer or co-writer Lennon has had 25 number one singles on the US Hot 100 chart.a His album sales in the US stand at 14 million units.[238] Double Fantasy, released shortly before his death, and his best-selling, post-Beatles’ studio album[239] at three million shipments in the US,[240] won the 1981 Grammy Award for Album of the Year.[241] The following year, the BRIT Award for Outstanding Contribution to Music went to Lennon.[242] Participants in a 2002 BBC poll voted him eighth of “100 Greatest Britons”.[243] Between 2003 and 2008, Rolling Stone recognised Lennon in several reviews of artists and music, ranking him fifth of “100 Greatest Singers of All Time”[244] and 38th of “The Immortals: The Fifty Greatest Artists of All Time”,[245] and his albums John Lennon/Plastic Ono Bandand Imagine, 22nd and 76th respectively of “The RS 500 Greatest Albums of All Time”.[245][246] He was appointed Member of the Order of the British Empire (MBE) with the other Beatles in 1965.[51] He was posthumously inducted into the Songwriters Hall of Fame in 1987[247] and into the Rock and Roll Hall of Famein 1994.[107]

Discography

A statue depicting a young Lennon outside a brick building. Next to the statue are three windows, with two side-by-side above the lower, which bears signage advertising the Cavern pub.

Statue outside theCavern Club, Liverpool

 

 

 

 

disalin dari http://en.wikipedia.org/wiki/John_Lennon

 

 

Tags : #RIP, #ajal #anumerta #beritadukacita #cremation #dead #death #die #died #dikremasi #dikremasikan #dikubur #dimakamkan #disemayamkan #dukacita #grave #jiwa #kematian #kremasi #kubur #kuburan #makam #mati #meninggal #meninggaldunia #nyawa #obituari #obituary #reastinpeace #soul #syahid #tewas #tomb #wafat #rumahduka #mortuary #petimati #coffin #jenazah #almarhum #almarhumah #pelayat #melayat #Announcements #Family #Life #News #People #Personal #Social Media #Health


Selamat Tahun Baru Islam


Info Meninggal Dunia atau Berita Duka Cita

 

 

Kalender Hijriyah

 

 

 

Kalender Hijriyah atau Kalender Islam (bahasa Arab: التقويم الهجري; at-taqwim al-hijri), adalah kalender yang digunakan oleh umat Islam, termasuk dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah, atau hari-hari penting lainnya. Kalender ini dinamakan Kalender Hijriyah, karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun dimana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 M. Di beberapa negara yang berpenduduk mayoritas Islam, Kalender Hijriyah juga digunakan sebagai sistem penanggalan sehari-hari. Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender biasa (kalender Masehi) yang menggunakan peredaran matahari.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting]Sejarah

Penentuan dimulainya sebuah hari/tanggal pada Kalender Hijriyah berbeda dengan pada Kalender Masehi. Pada sistem Kalender Masehi, sebuah hari/tanggal dimulai pada pukul 00.00 waktu setempat. Namun pada sistem Kalender Hijriah, sebuah hari/tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut.

Kalender Hijriyah dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan kalender lunar (qomariyah), memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari).Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun Kalender Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1 tahun Kalender Masehi.

Faktanya, siklus sinodik bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam Kalender Hijriah bergantung pada posisi bulan, bumi dan matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (new moon) di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi, dan pada saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion). Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dengan bumi berada di titik terjauhnya dari matahari (aphelion). dari sini terlihat bahwa usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah (29 – 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (BulanBumi danMatahari)

Penentuan awal bulan (new moon) ditandai dengan munculnya penampakan (visibilitas) Bulan Sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atauijtimak). Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari, sehingga posisi hilal berada di ufuk barat. Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari, dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal.

[sunting]Nama-nama bulan

Kalender Hijriyah terdiri dari 12 bulan:

No Penanggalan Islam Lama Hari
1 Muharram 30
2 Safar 29
3 Rabiul awal 30
4 Rabiul akhir 29
5 Jumadil awal 30
6 Jumadil akhir 29
7 Rajab 30
8 Sya’ban 29
9 Ramadhan 30
10 Syawal 29
11 Dzulkaidah 30
12 Dzulhijjah 29/(30)
Total 354/(355)

[sunting]Keterangan

  • Tanda kurung merupakan tahun kabisat dalam kalender Hijriyah dengan metode sisa yaitu 3-3-2 yang berjumlah 11 buah yaitu 2,5,8,10,13,16,18,21,24,26 dan 29.

[sunting]Nama-nama hari

Kalender Hijriyah terdiri dari 7 hari. Sebuah hari diawali dengan terbenamnya matahari, berbeda dengan Kalender Masehi yang mengawali hari pada saat tengah malam. Berikut adalah nama-nama hari:

  1. al-Ahad (Minggu)
  2. al-Itsnayn (Senin)
  3. ats-Tsalaatsa’ (Selasa)
  4. al-Arba’aa / ar-Raabi’ (Rabu)
  5. al-Khamsatun (Kamis)
  6. al-Jumu’ah (Jumat)
  7. as-Sabat (Sabtu)

[sunting]Sejarah

Penentuan kapan dimulainya tahun 1 Hijriah dilakukan 6 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad. Namun demikian, sistem yang mendasari Kalender Hijriah telah ada sejak zaman pra-Islam, dan sistem ini direvisi pada tahun ke-9 periode Madinah.

[sunting]Sistem kalender pra-Islam di Arab

Sebelum datangnya Islam, di tanah Arab dikenal sistem kalender berbasis campuran antara Bulan (komariyah) maupun Matahari (syamsiyah). Peredaran bulan digunakan, dan untuk mensinkronkan dengan musim dilakukan penambahan jumlah hari (interkalasi).

Pada waktu itu, belum dikenal penomoran tahun. Sebuah tahun dikenal dengan nama peristiwa yang cukup penting di tahun tersebut. Misalnya, tahun dimana Muhammad lahir, dikenal dengan sebutan “Tahun Gajah”, karena pada waktu itu, terjadi penyerbuan Ka’bah di Mekkah oleh pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah, Gubernur Yaman (salah satu provinsi Kerajaan Aksum, kini termasuk wilayah Ethiopia).

[sunting]Revisi penanggalan

Pada era kenabian Muhammad, sistem penanggalan pra-Islam digunakan. Pada tahun ke-9 setelah Hijrah, turun ayat 36-37 Surat At-Taubah, yang melarang menambahkan hari (interkalasi) pada sistem penanggalan.

[sunting]Penentuan Tahun 1 Kalender Islam

Setelah wafatnya Nabi Muhammad, diusulkan kapan dimulainya Tahun 1 Kalender Islam. Ada yang mengusulkan adalah tahun kelahiran Muhammad sebagai awal patokan penanggalan Islam. Ada yang mengusulkan pula awal patokan penanggalan Islam adalah tahun wafatnya Nabi Muhammad.

Akhirnya, pada tahun 638 M (17 H), khalifah Umar bin Khatab menetapkan awal patokan penanggalan Islam adalah tahun dimana hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah. Penentuan awal patokan ini dilakukan setelah menghilangkan seluruh bulan-bulan tambahan (interkalasi) dalam periode 9 tahun. Tanggal 1 Muharam Tahun 1 Hijriah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622, dan tanggal ini bukan berarti tanggal hijrahnya Nabi Muhammad. Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad terjadi bulan September 622. Dokumen tertua yang menggunakan sistem Kalender Hijriah adalah papirus di Mesir pada tahun 22 H, PERF 558.

[sunting]Tanggal-tanggal penting

Tanggal-tanggal penting dalam Kalender Hijriyah adalah:

[sunting]Hisab dan Rukyat

Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni mengamati penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak setelah bulan baru (ijtima). Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Apabila hilal terlihat, maka pada petang tersebut telah memasuki tanggal 1.

Sedangkan hisab adalah melakukan perhitungan untuk menentukan posisi bulan secara matematis dan astronomis. Hisab merupakan alat bantu untuk mengetahui kapan dan dimana hilal (bulan sabit pertama setelah bulan baru) dapat terlihat. Hisab seringkali dilakukan untuk membantu sebelum melakukan rukyat.

Penentuan awal bulan menjadi sangat signifikan untuk bulan-bulan yang berkaitan dengan ibadah, seperti bulan Ramadan (yakni umat Islam menjalankan puasa ramadan sebulan penuh), Syawal (yakni umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri), serta Dzulhijjah (dimana terdapat tanggal yang berkaitan dengan ibadah Haji dan Hari Raya Idul Adha). Penentuan kapan hilal dapat terlihat, menjadi motivasi ketertarikan umat Islam dalam astronomi. Ini menjadi salah satu pendorong mengapa Islam menjadi salah satu pengembang awal ilmu astronomi sebagai sains, lepas dari astrologi pada Abad Pertengahan.

Sebagian umat Islam berpendapat bahwa untuk menentukan awal bulan, adalah harus dengan benar-benar melakukan pengamatan hilal secara langsung (rukyatul hilal). Sebagian yang lain berpendapat bahwa penentuan awal bulan cukup dengan melakukan hisab (perhitungan matematis), tanpa harus benar-benar mengamati hilal. Metode hisab juga memiliki berbagai kriteria penentuan, sehingga seringkali menyebabkan perbedaan penentuan awal bulan, yang berakibat adanya perbedaan hari melaksanakan ibadah seperti puasa Ramadan atau Hari Raya Idul Fitri.

[sunting]Rupa-rupa

  • Menurut perhitungan, dalam satu siklus 30 tahun Kalender Hijriyah, terdapat 11 tahun kabisat dengan jumlah hari sebanyak 355 hari, dan 19 tahun dengan jumlah hari sebanyak 354 hari. Dalam jangka panjang, satu siklus ini cukup akurat hingga satu hari dalam sekitar 2500 tahun. Sedangkan dalam jangka pendek, siklus ini memiliki deviasi 1-2 hari.
  • Microsoft menggunakan Algoritma Kuwait untuk mengkonversi Kalender Gregorian ke Kalender Hijriyah. Algoritma ini diklaim berbasis analisis statistik data historis dari Kuwait, namun dalam kenyataannya adalah salah satu variasi dari Kalender Hijriyah tabular.
  • Untuk konversi secara kasar dari Kalender Hijriyah ke Kalender Masehi (Gregorian), kalikan tahun Hijriyah dengan 0,97, kemudian tambahkan dengan angka 622.
  • Setiap 33 atau 34 tahun Kalender Hijriyah, satu tahun penuh Kalender Hijriyah akan terjadi dalam satu tahun Kalender Masehi. Tahun 1429 H lalu terjadi sepenuhnya pada tahun 2008 M.

[sunting]Kalender Hijriah dan Penanggalan Jawa

Sistem Kalender Jawa berbeda dengan Kalender Hijriyah, meski keduanya memiliki kemiripan. Pada abad ke-1, di Jawa diperkenalkan sistem penanggalan Kalender Saka (berbasis matahari) yang berasal dari India. Sistem penanggalan ini digunakan hingga pada tahun 1625 Masehi (bertepatan dengan tahun 1547 Saka), Sultan Agung mengubah sistem Kalender Jawa dengan mengadopsi Sistem Kalender Hijriah, seperti nama-nama hari, bulan, serta berbasis lunar (komariyah). Namun demikian, demi kesinambungan, angka tahun saka diteruskan, dari 1547 Saka Kalender Jawa tetap meneruskan bilangan tahun dari 1547 Saka ke 1547 Jawa.

Berbeda dengan Kalender Hijriah yang murni menggunakan visibilitas Bulan (moon visibility) pada penentuan awal bulan (first month), Penanggalan Jawa telah menetapkan jumlah hari dalam setiap bulannya.

 

 

 

 

 

disalin dari http://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_Baru_Hijriyah

 

 

 

Tags : #RIP, #ajal #anumerta #beritadukacita #cremation #dead #death #die #died #dikremasi #dikremasikan #dikubur #dimakamkan #disemayamkan #dukacita #grave #jiwa #kematian #kremasi #kubur #kuburan #makam #mati #meninggal #meninggaldunia #nyawa #obituari #obituary #reastinpeace #soul #syahid #tewas #tomb #wafat #rumahduka #mortuary #petimati #coffin #jenazah #almarhum #almarhumah #pelayat #melayat #Announcements #Family #Life #News #People #Personal #Social Media #Health


Hari Raya Idul Fitri


Info Meninggal Dunia atau Berita Duka Cita

 

 

 

Idul Fitri (Bahasa Arabعيد الفطر ‘Īdu l-Fiṭr) adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal pada penanggalan Hijriyah. Karena penentuan 1Syawal yang berdasarkan peredaran bulan tersebut, maka Idul Fitri atau Hari Raya Puasa jatuh pada tanggal yang berbeda-beda setiap tahunnya apabila dilihat dari penanggalan Masehi. Cara menentukan 1 Syawal juga bervariasi, sehingga boleh jadi ada sebagian umat Islam yang merayakannya pada tanggal Masehi yang berbeda. Pada tanggal 1 Syawal, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan menyelenggarakan Salat Ied bersama-sama di masjid-masjid, di tanah lapang, atau bahkan jalan raya (terutama di kota besar) apabila area ibadahnya tidak cukup menampung jamaah. Dan sebelum salai ied di lakukan imam mengingatkan siapa yang belum membayar zakat fitrah, sebab kalau selesai salat ied baru membayar zakatnya hukum nya sodakoh biasa bukan zakat.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting]Ibadah dan tradisi pada Idul Fitri

Idul Fitri menandai berakhirnya puasa pada bulan Ramadan.

Salat Idul Fitri biasanya dilakukan di lapangan. Adapun hukum dari Salat Idul Fitri ini adalah sunnah mu’akkad. Sebelum salat, kaum muslimin mengumandangkan takbir. Adapun takbir adalah sebagai berikut:

Arab Latin Terjemahan
الله أكبر الله أكبر الله أكبر Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar
لا إله إلا الله la ilaha illa Allah Tidak ada Tuhan selain Allah
الله أكبر الله أكبر Allahu akbar, Allahu akbar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar
ولله الحمد wa li-illahi al-hamd Segala puji hanya bagi Allah

Takbir mulai dikumandangkan setelah bulan Syawal dimulai. Selain menunaikan Salat Sunnah Idul Fitri, kaum muslimin juga harus membayar zakat fitrah[1][2] sebanyak 2,7 kilogram bahan pangan pokok. Tujuan dari zakat fitrah sendiri adalah untuk memberi kebahagiaan pada kaum fakir miskin. Kemudian, Khutbah diberikan setelah Salat Idul Fitri berlangsung, dan dilanjutkan dengan do’a. Setelah itu, kaum muslimin saling bermaaf-maafan. Terkadang beberapa orang akan berziarah mengunjungi kuburan.[3]

 

 

 

Idul Fitri di berbagai wilayah

 

 

 

Umat Islam di Indonesia menjadikan Idul Fitri sebagai hari raya utama, momen untuk berkumpul kembali bersama keluarga, apalagi keluarga yang karena suatu alasan, misalnya pekerjaan atau pernikahan, harus berpisah. Mulai dua minggu sebelum Idul Fitri, umat Islam di Indonesia mulai sibuk memikirkan perayaan hari raya ini, yang paling utama adalah Mudik atau Pulang Kampung, sehingga pemerintah pun memfasilitasi dengan memperbaiki jalan-jalan yang dilalui. Hari Raya Idul Fitri di Indonesia diperingati sebagai hari libur nasional, yang diperingati oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang memang mayoritas Muslim. Biasanya, penetapan Idul Fitri ditentukan oleh pemerintah, namun beberapa ormas Islam menetapkannya berbeda. Idul Fitri di Indonesia disebut dengan Lebaran, dimana sebagian besar masyarakat pulang kampung (mudik) untuk merayakannya bersama keluarga. Selama perayaan, berbagai hidangan disajikan. Hidangan yang paling populer dalam perayaan Idul Fitri di Indonesia adalah ketupat, yang memang sangat familiar di IndonesiaMalaysiaBrunei, dan Singapura. Bagi anak-anak, biasanya para orang tuamemberikan uang raya kepada mereka. Selama perayaan, biasanya masyarakat berkunjung ke rumah-rumah tetangga ataupun saudaranya untuk bersilaturahmi, yang dikenal dengan “halal bi-halal”,[4] memohon maaf dan keampunan kepada mereka. Beberapa pejabat negara juga mengadakan open house bagi masyarakat yang ingin bersilaturahmi.

Di MalaysiaSingapura, dan Brunei, Idul Fitri dikenal juga dengan sebutan Hari Raya Puasa atau Hari Raya Aidil Fitri. Masyarakat di Malaysia dan Singapura turut merayakannya bersama masyarakat Muslim diseluruh dunia. Seperti di Indonesia, malam sebelum perayaan selalu diteriakkan takbir di masjid ataupun mushala, yang mengungkapkan kemenangan dan kebesaran Tuhan. Diperkampungan, biasanya banyak masyarakat yang menghidupkan pelita atau panjut, atau obor di Indonesia. Banyak bank, perkantoran swasta ataupun pemerintahan yang tutup selama perayaan Idul Fitri hingga akhir minggu perayaan. Masyarakat disini biasanya saling mengucapkan “Selamat Hari Raya” atau “Salam Aidil Fitri” dan “Maaf lahir dan batin” sebagai ungkapan permohonan maaf kepada sesama. Di Malaysia juga ada tradisibalik kampung, atau mudik di Indonesia. Disini juga ada tradisi pemberian uang oleh para orang tua kepada anak-anak, yang dikenal dengan sebutan duit raya.[5][6]

Umat Muslim adalah minoritas di Filipina, sehingga sebagian besar masyarakat tidak begitu familiar dengan perayaan ini. Namun, perayaan Idul Fitri sudah diatur sebagai hari libur nasional oleh pemerintah dalam Republic Act No. 9177 dan berlaku sejak 13 November 2002.[7]

[sunting]Asia Selatan

Di BangladeshIndia, dan Pakistan, malam sebelum Idul Fitri disebut Chand Raat, atau malam bulan. Orang-orang mengunjungi berbagai bazar dan mal untuk berbelanja, dengan keluarga dan anak-anak mereka. Para perempuan, terutama yang muda, seringkali satu sama lain mengecat tangan mereka dengan bahan tradisional hennadan serta memakai rantai yang warna-warni.

Cara yang paling populer di Asia Selatan selama perayaan Idul Fitri adalah dengan mengucapkan Eid Mubarak kepada yang lain. Anak-anak didorong untuk menyambut para orang tua. Didalam penyambutan ini, mereka juga berharap untuk memperoleh uang, yang disebut Eidi, dari para orang tua.

Di pagi Idul Fitri, setelah mandi dan bersih, setiap Muslim didorong untuk menggunakan pakaian baru, bila mereka bisa mengusahakannya. Sebagai alternatif, mereka boleh menggunakan pakaian yang bersih, yang telah dicuci. Orang tua dan anak laki-laki pergi ke masjid atau lapangan terbuka, tradisi ini disebut Eidgahsalat Ied, berterimakasih kepada Allah karena diberi kesempatan beribadah di bulan Ramadan dengan penuh arti. Setiap Muslim diwajibkan untuk membayar Zakat Fitri atau Zakat Fitrah kepada fakir miskin, sehingga mereka dapat juga turut merayakan hari kemenangan ini.

Setelah salat, perkumpulan itu dibubarkan dansetiap Muslim saling bertamu dan menyambut satu sama lain termasuk anggota keluarga, anak-anak, orang tua, teman dan tetangga mereka.

Sebagian Muslim juga berziarah ke makam anggota keluarga mereka untuk berdoa bagi keselamatan almarhum. Biasanya, anak-anak mengunjungi sanak keluarga dan tetangga yang lebih tua untuk meminta maaf dan mengucapkan salam.

Setelah bertemu dengan teman dan sanak keluarganya, banyak orang yang pergi ke pesta-pesta, karnaval, dan perayaan khusus di taman-taman (dengan bertamasya, kembang api, mercon, dan lain-lain). Di BangladeshIndia, dan Pakistan, banyak dilakukan bazar, sebagai puncak Idul Fitri. Sebagian Muslim juga memanfaatkan perayaan ini untuk mendistribusikan zakat mal, zakat atas kekayaannya, kepada orang-orang miskin.

Dengan cara ini, umat Muslim di Asia Selatan merayakan Idul Fitri dalam suasana yang meriah, sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah, dan mengajak keluarga mereka, teman, dan para fakir miskin, sebagai rasa kebersamaan.

[sunting]Arab Saudi

Di Arab Saudi, tepatnya di Riyadh, umat Islam mendekorasi rumah saat Idul Fitri tiba. Sejumlah perayaan digelar seperti pagelaran teater, pembacaan puisi, parade, pertunjukan musik, dan sebagainya. Soal menu Lebaran, umat Islam di sana menyantap daging domba yang dicampur nasi dan sayuran tradisional. Hal ini juga terjadi di SudanSuriah, dan beberapa negara Timur Tengah lainnya.[8]

[sunting]Cina

Di Cina, tepatnya di Xinjiang, perayaan Lebaran justru tampak meriah. Kaum pria mengenakan jas khas dan kopiah putih, sementara wanita memakai baju hangat dan kerudung setengah tutup. Seusai salat Idul Fitri, pesta makan dan bersilaturahim pun dilakukan.[8]

[sunting]Iran

Lebaran di Iran justru kurang semarak. Hal ini karena mayoritas umat Islam di sana adalah pengikut ajaran Syiah. Setelah salat Idul Fitri di masjid atau lapangan, mereka cukup melanjutkannya dengan acara silaturahmi bersama keluarga dan ditutup dengan acara pemberian makanan dari keluarga kaya kepada yang kurang mampu.[8]

[sunting]Eropa

Di Eropa, perayaan Idul Fitri tidak dilakukan dengan begitu semarak. Di Inggris misalnya, Idul Fitri tidak diperingati sebagai hari libur nasional. Kaum muslimin di Inggrisharus mencari informasi tentang hari Idul Fitri. Biasanya, informasi ini didapat dari Islamic Centre terdekat atau dari milis Islam. Idul Fitri dirayakan secara sederhana diInggris. Khotbah disampaikan oleh Imam masjid setempat, dilanjutkan dengan bersalam-salaman. Biasanya di satu area dimana terdapat banyak kaum Muslimin disana, kantor-kantor dan beberapa sekolah di area tersebut akan memberikan satu hari libur untuk kaum muslimin. Untuk menentukan hari Idul Fitri sendiri, para ulamadan para ahli agama Islam sering mengadakan rukyat hisab untuk menentukan hari raya Idul Fitri.

[sunting]Turki

Di Turki, Idul Fitri dikenal dengan sebutan Bayram (dari bahasa Turki). Biasanya setiap orang akan saling mengucapkan “Bayramınız Kutlu Olsun”“Mutlu Bayramlar”, atau “Bayramınız Mübarek Olsun”. Pada Idul Fitri, masyarakat biasanya menggunakan pakaian terbaik mereka (dikenal sebagai Bayramlik) dan saling kunjung mengunjungi ketempat orang-orang yang mereka kasihi seperti keluarga, tetangga, dan teman-teman mereka serta menziarahi kuburan keluarganya yang telah tiada.

Pada masa itu, orang yang lebih muda akan mencium tangan kanan mereka yang lebih tua dan menempatkannya di dahi mereka selagi mengucapkan salam Bayram. Para anak-anak kecil juga biasa mendatangi rumah-rumah disekitar lingkungannya untuk mengucapkan salam, dimana mereka biasanya diberikan permencokelat, permen tradisional seperti Baklava dan Lokum, atau sejumlah kecil uang.

[sunting]Amerika

[sunting]Amerika Utara

Umat Muslim di Amerika Utara pada umumnya merayakan Idul Fitri dengan cara yang tenang dan khidmat. Karena penetapan hari raya bergantung pada peninjauan bulan, seringkali banyak masyarakat tidak sadar bahwa hari berikutnya sudah Idul Fitri. Masyarakat menggunakan metode yang berbeda untuk menentukan penghujung Ramadan dan permulaan Syawal. Orang Amerika Utara yang berada di wilayah timur bisa jadi merayakan Idul Fitri pada hari yang berbeda dibanding mereka yang di wilayah barat. Pada umumnya, penghujung Ramadan diumumkan via e-mail, website, atau melalui sambungan telepon.

Umumnya, keluarga Muslim di Barat akan bangun sangat pagi sekali untuk menyiapkan makanan kecil. Setiap orang didorong untuk berpakaian formal dan baru. Banyak keluarga-keluarga yang memakai pakaian tradisional dari negara mereka, karena kebanyakan Muslim disana ialah imigran. Selanjutnya mereka akan pergi ke majlis yang paling dekat untuk salat. Salat itu bisa diadakan dimasjid lokal, ruang pertemuan hotel, gelanggang, ataupun stadion lokal. Salat Idul Fitri sangat penting, dan umat Muslim didorong untuk salat Id memohon ampunan dan pahala. Setelah salat, ada kutbah dimana imam memberikan nasihat bagi jamaahnya dan biasanya didorong untuk mengakhiri setiap kebencian ataupun kesalahan lampau yang mungkin mereka punya. Setelah salat dankutbah, para jamaah saling memeluk dan satu sama lain saling mengucapkan selamat Idul Fitri. Muslim di Amerika Utara juga merayakan Idul Fitri dengan cara saling memberi dan menerima hadiah kepada keluarga.

Empire State Building di New York CityAmerika Serikat, memancarkan lampu-lampu berwarna hijau sebagai penghormatan terhadap hari raya Idul Fitri pada tanggal 12-14 Oktober 2007.[9]

[sunting]Idul Fitri dalam kalender Masehi

Lihat pula: Kalender Islam

Dalam kalender Islam, penetapan hari Idul Fitri selalu sama setiap tahunnya, hal ini berbeda dalam kalender Masehi yang selalu berubah dari tahun ke tahun. Dalam kalender Islam penetapan hari ialah berdasarkan fase bulan (kalender lunar), sedangkan kalender Masehi berdasar fase bumi mengelilingi matahari (kalender solar). Perbedaan inilah yang menyebabkan penetapan Idul Fitri selalu berubah di dalam kalender Masehi, yakni terjadi perubahan 11 hari lebih awal setiap tahunnya. Perkiraan hari Idul Fitri dalam kalender Masehi ialah sebagai berikut:

Hijriah Masehi
1410 27 April 1990
1411 16 April 1991
1412 4 April 1992
1413 25 Maret 1993
1414 14 Maret 1994
1415 3 Maret 1994
1416 21 Februari 1996
1417 9 Februari 1997
1418 30 Januari 1998
1419 19 Januari 1999
1420 8 Januari 2000
1421 27 Desember 2000
1422 16 Desember 2001
1423 6 Desember 2002
1424 25 November 2003
1425 14 November 2004
1426 3 November 2005
1427 24 Oktober 2006[10]
1428 13 Oktober 2007
1429 1 Oktober 2008
1430 21 September 2009
1431 10 September 2010[11]
1432 30 Agustus 2011[12]
1433 19 Agustus 2012
1434 8 Agustus 2013
1435 29 Juli 2014
1436 19 Juli 2015
1437 7 Juli 2016
1438 26 Juni 2017
1439 15 Juni 2018
1440 5 Juni 2019

 

 

 

disalin dari http://id.wikipedia.org/wiki/Idul_Fitri


Proklamasi Kemerdekaan Indonesia


Info Meninggal Dunia atau Berita Duka Cita

 

 

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Jumat, 17 Agustus 1945 Tahun Masehi, atau 17 Agustus 2605 menurut tahun Jepang dibacakan oleh Ir. Soekarno yang didampingi oleh Drs. Mohammad Hatta di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat.

 

 

 

Latar belakang

 

 

Pada tanggal 6 Agustus 1945 sebuah bom atom dijatuhkan di atas kota Hiroshima Jepang oleh Amerika Serikat yang mulai menurunkan moral semangat tentara Jepang di seluruh dunia. Sehari kemudian Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI, atau “Dokuritsu Junbi Cosakai”, berganti nama menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau disebut juga Dokuritsu Junbi Inkai dalam bahasa Jepang, untuk lebih menegaskan keinginan dan tujuan mencapai kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 9 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan di atas Nagasaki sehingga menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.

Indonesian flag raised 17 August 1945.jpg

Soekarno, Hatta selaku pimpinan PPKI dan Radjiman Wedyodiningrat sebagai mantan ketua BPUPKI diterbangkan ke Dalat, 250 km di sebelah timur laut SaigonVietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang di ambang kekalahan dan akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Sementara itu di Indonesia, pada tanggal 10 Agustus 1945Sutan Syahrir telah mendengar berita lewat radio bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Para pejuang bawah tanah bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menolak bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang.

Pada tanggal 12 Agustus 1945Jepang melalui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, mengatakan kepada Soekarno, Hatta dan Radjiman bahwa pemerintah Jepang akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan proklamasi kemerdekaan dapat dilaksanakan dalam beberapa hari, tergantung cara kerja PPKI.[1] Meskipun demikian Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 24 Agustus.

Dua hari kemudian, saat Soekarno, Hatta dan Radjiman kembali ke tanah air dari Dalat, Sutan Syahrir mendesak agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan karena menganggap hasil pertemuan di Dalat sebagai tipu muslihat Jepang, karena Jepang setiap saat sudah harus menyerah kepada Sekutu dan demi menghindari perpecahan dalam kubu nasionalis, antara yang anti dan pro Jepang. Hatta menceritakan kepada Syahrir tentang hasil pertemuan di Dalat. Soekarno belum yakin bahwa Jepang memang telah menyerah, dan proklamasi kemerdekaan RI saat itu dapat menimbulkan pertumpahan darah yang besar, dan dapat berakibat sangat fatal jika para pejuang Indonesia belum siap. Soekarno mengingatkan Hatta bahwa Syahrir tidak berhak memproklamasikan kemerdekaan karena itu adalah hak Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sementara itu Syahrir menganggap PPKI adalah badan buatan Jepang dan proklamasi kemerdekaan oleh PPKI hanya merupakan ‘hadiah’ dari Jepang (sic).

Indonesia flag raising witnesses 17 August 1945.jpg

Pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu. Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang telah berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Sekutu. Sutan Sjahrir, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh mendengar kabar ini melalui radio BBC. Setelah mendengar desas-desus Jepang bakal bertekuk lutut, golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun golongan tua tidak ingin terburu-buru. Mereka tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi. Konsultasi pun dilakukan dalam bentuk rapat PPKI. Golongan muda tidak menyetujui rapat itu, mengingat PPKI adalah sebuah badan yang dibentuk oleh Jepang. Mereka menginginkan kemerdekaan atas usaha bangsa kita sendiri, bukan pemberian Jepang.

Soekarno dan Hatta mendatangi penguasa militer Jepang (Gunsei) untuk memperoleh konfirmasi di kantornya di Koningsplein (Medan Merdeka). Tapi kantor tersebut kosong.

Soekarno dan Hatta bersama Soebardjo kemudian ke kantor BukanfuLaksamana Muda Maeda, di Jalan Medan Merdeka Utara (Rumah Maeda di Jl Imam Bonjol 1). Maeda menyambut kedatangan mereka dengan ucapan selamat atas keberhasilan mereka di Dalat. Sambil menjawab ia belum menerima konfirmasi serta masih menunggu instruksi dari Tokyo. Sepulang dari Maeda, Soekarno dan Hatta segera mempersiapkan pertemuan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada pukul 10 pagi 16 Agustus keesokan harinya di kantor Jalan Pejambon No 2 guna membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan persiapan Proklamasi Kemerdekaan.

Sehari kemudian, gejolak tekanan yang menghendaki pengambilalihan kekuasaan oleh Indonesia makin memuncak dilancarkan para pemuda dari beberapa golongan. Rapat PPKI pada 16 Agustus pukul 10 pagi tidak dilaksanakan karena Soekarno dan Hatta tidak muncul. Peserta rapat tidak tahu telah terjadi peristiwa Rengasdengklok.

 

 

 

Peristiwa Rengasdengklok

 

Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul SalehSukarni, dan Wikana –yang konon kabarnya terbakar gelora heroismenya setelah berdiskusi dengan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka –yang tergabung dalam gerakan bawah tanah kehilangan kesabaran, dan pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945. Bersama Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, mereka membawa Soekarno (bersama Fatmawatidan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, ke Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya. Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Mr. Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu – buru memproklamasikan kemerdekaan. Setelah tiba di Jakarta, mereka pulang kerumah masing-masing. Mengingat bahwa hotel Des Indes (sekarang kompleks pertokoan di Harmoni) tidak dapat digunakan untuk pertemuan setelah pukul 10 malam, maka tawaran Laksamana Muda Maeda untuk menggunakan rumahnya (sekarang gedung museum perumusan teks proklamasi) sebagai tempat rapat PPKI diterima oleh para tokoh Indonesia.

 

 

Pertemuan Soekarno/Hatta dengan Jenderal Mayor Nishimura dan Laksamana Muda Maeda

 

 

Malam harinya, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta. Mayor Jenderal Moichiro Yamamoto, Kepala Staf Tentara ke XVI (Angkatan Darat) yang menjadi Kepala pemerintahan militer Jepang (Gunseikan) di Hindia Belanda tidak mau menerima Sukarno-Hatta yang diantar olehTadashi Maeda dan memerintahkan agar Mayor Jenderal Otoshi Nishimura, Kepala Departemen Urusan Umum pemerintahan militer Jepang, untuk menerima kedatangan rombongan tersebut. Nishimura mengemukakan bahwa sejak siang hari tanggal 16 Agustus 1945 telah diterima perintah dari Tokio bahwa Jepang harus menjaga status quo, tidak dapat memberi izin untuk mempersiapkan proklamasi Kemerdekaan Indonesia sebagaimana telah dijanjikan oleh Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam. Soekarno dan Hatta menyesali keputusan itu dan menyindir Nishimura apakah itu sikap seorang perwira yang bersemangat Bushido, ingkar janji agar dikasihani oleh Sekutu. Akhirnya Sukarno-Hatta meminta agar Nishimura jangan menghalangi kerja PPKI, mungkin dengan cara pura-pura tidak tau. Melihat perdebatan yang panas itu Maeda dengan diam-diam meninggalkan ruangan karena diperingatkan oleh Nishimura agar Maeda mematuhi perintah Tokio dan dia mengetahui sebagai perwira penghubung Angkatan Laut (Kaigun) di daerah Angkatan Darat (Rikugun) dia tidak punya wewenang memutuskan.

Setelah dari rumah Nishimura, Sukarno-Hatta menuju rumah Laksamana Maeda (kini Jalan Imam Bonjol No.1) diiringi oleh Myoshi guna melakukan rapat untuk menyiapkan teksProklamasi. Setelah menyapa Sukarno-Hatta yang ditinggalkan berdebat dengan Nishimura, Maeda mengundurkan diri menuju kamar tidurnya. Penyusunan teks Proklamasi dilakukan oleh Soekarno, M. Hatta, Achmad Soebardjo dan disaksikan oleh SoekarniB.M. Diah, Sudiro (Mbah) dan Sayuti Melik. Myoshi yang setengah mabuk duduk di kursi belakang mendengarkan penyusunan teks tersebut tetapi kemudian ada kalimat dari Shigetada Nishijima seolah-olah dia ikut mencampuri penyusunan teks proklamasi dan menyarankan agar pemindahan kekuasaan itu hanya berarti kekuasaan administratif. Tentang hal ini Bung Karno menegaskan bahwa pemindahan kekuasaan itu berarti “transfer of power”. Bung Hatta, Subardjo, B.M Diah, Sukarni, Sudiro dan Sajuti Malik tidak ada yang membenarkan klaim Nishijima tetapi di beberapa kalangan klaim Nishijima masih didengungkan.

Setelah konsep selesai disepakati, Sajuti menyalin dan mengetik naskah tersebut menggunakan mesin ketik yang diambil dari kantor perwakilan AL Jerman, milik Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler.[2] Pada awalnya pembacaan proklamasi akan dilakukan di Lapangan Ikada, namun berhubung alasan keamanan dipindahkan ke kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56[3] (sekarang Jl. Proklamasi no. 1).

 

 

 

Detik-detik Pembacaan Naskah Proklamasi

 

 

Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 – 04.00 dini hari. Teks proklamasi ditulis di ruang makan di laksamana Tadashi Maeda Jln Imam Bonjol No 1. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Di ruang depan, hadir B.M Diah Sayuti Melik, Sukarni dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Teks Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti Melik. Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain SoewirjoWilopoGafar PringgodigdoTabranidan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10:00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh Ibu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.

Pada awalnya Trimurti diminta untuk menaikkan bendera namun ia menolak dengan alasan pengerekan bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Oleh sebab itu ditunjuklah Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed untuk tugas tersebut. Seorang pemudi muncul dari belakang membawa nampan berisi bendera Merah Putih (Sang Saka Merah Putih), yang dijahit oleh Fatmawati beberapa hari sebelumnya. Setelah bendera berkibar, hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya.[4]. Sampai saat ini, bendera pusaka tersebut masih disimpan di Museum Tugu Monumen Nasional.

Setelah upacara selesai berlangsung, kurang lebih 100 orang anggota Barisan Pelopor yang dipimpin S.Brata datang terburu-buru karena mereka tidak mengetahui perubahan tempat mendadak dari Ikada ke Pegangsaan. Mereka menuntut Soekarno mengulang pembacaan Proklamasi, namun ditolak. Akhirnya Hatta memberikan amanat singkat kepada mereka.[5]
Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengambil keputusan, mengesahkan dan menetapkan Undang-Undang Dasar (UUD) sebagai dasar negara Republik Indonesia, yang selanjutnya dikenal sebagai UUD 45. Dengan demikian terbentuklah Pemerintahan Negara Kesatuan Indonesia yang berbentuk Republik (NKRI) dengan kedaulatan di tangan rakyat yang dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akan dibentuk kemudian.

Setelah itu Soekarno dan M.Hatta terpilih atas usul dari Oto Iskandardinata dan persetujuan dari PPKI sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang pertama. Presiden dan wakil presiden akan dibantu oleh sebuah Komite Nasional.

 

 

 

 

Isi Teks Proklamasi

 

 

Naskah Klad

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal2 jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, 17-8-05
Wakil-wakil bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta

 

 

 

Naskah baru setelah mengalami perubahan

 

 

Di dalam teks proklamasi terdapat beberapa perubahan yaitu terdapat pada:

  • Kata tempoh diubah menjadi tempo
  • Kata Wakil-wakil bangsa Indonesia diubah menjadi Atas nama bangsa Indonesia
  • Kata Djakarta, 17-8-05 diubah menjadi Djakarta, hari 17 boelan 08 tahun ’05
  • Naskah proklamasi klad yang tidak ditandatangani kemudian menjadi otentik dan ditandatangani oleh Ir. Soekarno dan Drs. Moh.Hatta
  • Kata Hal2 diubah menjadi Hal-hal

Isi teks proklamasi kemerdekaan yang singkat ini adalah:

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta

Di sini ditulis tahun 05 karena ini sesuai dengan tahun Jepang yang kala itu adalah tahun 2605.

 

 

 

Naskah Otentik

 

 

Teks diatas merupakan hasil ketikan dari Sayuti Melik (atau Sajoeti Melik), salah seorang tokoh pemuda yang ikut andil dalam persiapan proklamasi.

Proklamasi
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal² jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, 17-8-’05
Wakil2 bangsa Indonesia.

 

 

 

 

 

Cara Penyebaran Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

 

 

Wilayah Indonesia sangatlah luas. Komunikasi dan transportasi sekitar tahun 1945 masih sangat terbatas. Di samping itu, hambatan dan larangan untuk menyebarkan berita proklamasi oleh pasukan Jepang di Indonesia, merupakan sejumlah faktor yang menyebabkan berita proklamasi mengalami keterlambatan di sejumlah daerah, terutama di luar Jawa. Namun dengan penuh tekad dan semangat berjuang, pada akhirnya peristiwa proklamasi diketahui oleh segenap rakyat Indonesia. Lebih jelasnya ikuti pembahasan di bawah ini. Penyebaran proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 di daerah Jakarta dapat dilakukan secara cepat dan segera menyebar secara luas. Pada hari itu juga, teks proklamasi telah sampai di tangan Kepala Bagian Radio dari Kantor Domei (sekarang Kantor Berita ANTARA), Waidan B. Palenewen. Ia menerima teks proklamasi dari seorang wartawan Domei yang bernama Syahruddin. Kemudian ia memerintahkan F. Wuz (seorang markonis), supaya berita proklamasi disiarkan tiga kali berturut-turut. Baru dua kali F. Wuz melaksanakan tugasnya, masuklah orang Jepang ke ruangan radio sambil marah-marah, sebab mengetahui berita proklamasi telah tersiar ke luar melalui udara.

Meskipun orang Jepang tersebut memerintahkan penghentian siaran berita proklamasi, tetapi Waidan Palenewen tetap meminta F. Wuz untuk terus menyiarkan. Berita proklamasi kemerdekaan diulangi setiap setengah jam sampai pukul 16.00 saat siaran berhenti. Akibat dari penyiaran tersebut, pimpinan tentara Jepang di Jawa memerintahkan untuk meralat berita dan menyatakan sebagai kekeliruan. Pada tanggal 20 Agustus 1945 pemancar tersebut disegel oleh Jepang dan para pegawainya dilarang masuk. Sekalipun pemancar pada kantor Domei disegel, para pemuda bersama Jusuf Ronodipuro (seorang pembaca berita di Radio Domei) ternyata membuat pemancar baru dengan bantuan teknisi radio, di antaranya Sukarman, Sutamto, Susilahardja, dan Suhandar. Mereka mendirikan pemancar baru di Menteng 31, dengan kode panggilan DJK 1. Dari sinilah selanjutnya berita proklamasi kemerdekaan disiarkan.

Usaha dan perjuangan para pemuda dalam penyebarluasan berita proklamasi juga dilakukan melalui media pers dan surat selebaran. Hampir seluruh harian di Jawa dalam penerbitannya tanggal 20 Agustus 1945 memuat berita proklamasi kemerdekaan dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Harian Suara Asia di Surabaya merupakan koran pertama yang memuat berita proklamasi. Beberapa tokoh pemuda yang berjuang melalui media pers antara lain B.M. Diah, Sayuti Melik, dan Sumanang. Proklamasi kemerdekaan juga disebarluaskan kepada rakyat Indonesia melalui pemasangan plakat, poster, maupun coretan pada dinding tembok dan gerbong kereta api, misalnya dengan slogan Respect our Constitution, August 17!(Hormatilah Konstitusi kami tanggal 17 Agustus!) Melalui berbagai cara dan media tersebut, akhirnya berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dapat tersebar luas di wilayah Indonesia dan di luar negeri. Di samping melalui media massa, berita proklamasi juga disebarkan secara langsung oleh para utusan daerah yang menghadiri sidang PPKI. Berikut ini para utusan PPKI yang ikut menyebarkan berita proklamasi.

 

 

 

 

Peringatan 17 Agustus 1945

 

Setiap tahun pada tanggal 17 Agustus, rakyat Indonesia merayakan Hari Proklamasi Kemerdekaan ini dengan meriah. Mulai dari lomba panjat pinanglomba makan kerupuk, sampai upacara militer di Istana Merdeka, seluruh bagian dari masyarakat ikut berpartisipasi dengan cara masing-masing.

 

 

 

Lomba-lomba tradisional

 

 

Perlombaan yang seringkali menghiasi dan meramaikan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI diadakan di kampung-kampung/ pedesaan diikuti oleh warga setempat dan dikoordinir oleh pengurus kampung/ pemuda desa

 

 

 

Peringatan Detik-detik Proklamasi

 

Peringatan detik-detik Proklamasi di Istana Merdeka dipimpin oleh Presiden RI selaku Inspektur Upacara. Peringatan ini biasanya disiarkan secara langsung oleh seluruh stasiun televisi. Acara-acara pada pagi hari termasuk: penembakan meriam dan sirene, pengibaran bendera Sang Saka Merah Putih (Bendera Pusaka), pembacaan naskah Proklamasi, dll. Pada sore hari terdapat acara penurunan bendera Sang Saka Merah Putih.

 

 

 

 

 

disalin dari http://id.wikipedia.org/wiki/Proklamasi_Kemerdekaan_Indonesia


Hari Raya Waisak


Info Meninggal Dunia atau Berita Duka Cita

Waisak atau Waisaka (Pali; Sanskrit: Vaiśākha वैशाख) merupakan hari suci agama Buddha. Hari Waisak juga dikenal dengan nama Visakah Puja atau Buddha Purnima di India, Saga Dawa di Tibet, Vesak di Malaysia, dan Singapura, Visakha Bucha di Thailand, dan Vesak di Sri Lanka. Nama ini diambil dari bahasa Pali “Wesakha”, yang pada gilirannya juga terkait dengan “Waishakha” dari bahasa Sanskerta.[1] Di beberapa tempat disebut juga sebagai “hari Buddha”.

Dirayakan dalam bulan Mei pada waktu terang bulan (purnama sidhi) untuk memperingati 3 (tiga) peristiwa penting, yaitu :

  1. Lahirnya Pangeran Siddharta di Taman Lumbini di tahun 623 S.M.,
  2. Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung dan menjadi Buddha di Buddha-Gaya (Bodhgaya) pada usia 35 tahun di tahun 588 S.M.
  3. Buddha Gautama parinibbana (wafat) di Kusinara pada usia 80 tahun di tahun 543 S.M.

Tiga peristiwa ini dinamakan “Trisuci Waisak”. Keputusan merayakan Trisuci ini dinyatakan dalam Konferensi Persaudaraan Buddhis Sedunia (World Fellowship of Buddhists – WFB) yang pertama di Sri Lanka pada tahun 1950. Perayaan ini dilakukan pada purnama pertama di bulan Mei.

Waisak sendiri adalah nama salah satu bulan dalam penanggalan India Kuno.

Daftar isi

[sembunyikan]

Nama Waisak

Dalam tradisi Buddhis Mahayana, hari ini berasal dari nama bahasa Sanskerta, वैशाख (Vaiśākha), dan berasal dari variannya. Vesākha dikenal dengan nama Vesak atau Wesak (衛塞節) dalam bahasa Sinhala.

Waisak juga dikenal dengan :

  • बुद्ध पुर्णिमा/বুদ্ধ পূর্ণিমা Buddha Purnima atau बुद्ध जयंती/বুদ্ধ জয়ন্তী Buddha Jayanti in IndiaBangladesh dan Nepal
  • 花祭 (Hanamatsuri) di Jepang,
  • 석가 탄신일 Seokka Tanshin-il (Hanja: 釋迦誕身日) di Korea,
  • 佛誕 (MandarinFódànKantonisFātdàahn) di komunitas berbahasa Cina,
  • Phật Đản di Vietnam,
  • ས་ག་ཟླ་བ། Saga Dawa (sa ga zla ba) di Tibet,
  • វិសាខបូជា Visak Bochéa di Khmer,
  • วันวิสาขบูชา Visakah Puja (atau Visakha Bucha) di Thai,
  • ကဆုန်လပြည့်ဗုဒ္ဓနေ့ (Kasone la-pyae Boda nei), lit. “Full Moon Day of Kason,” the second month of the traditional Burmese calendar,
  • ວິຊຂບູຊ Vixakha Bouxa di Lao,
  • වෙසක් පසළොස්වක පෝය Vesak (Wesak) di Sri Lanka dan Malaysia.

Perayaan Waisak

Di Indonesia

Perayaan Hari Waisak di Indonesia mengikuti keputusan WFB. Secara tradisional dipusatkan secara nasional di komplek Candi BorobudurMagelang,Jawa Tengah.

Rangkaian perayaan Waisak nasional secara pokok adalah sebagai berikut:[2]

  1. Pengambilan air berkat dari mata air (umbul) Jumprit di Kabupaten Temanggung dan penyalaan obor menggunakan sumber api abadi Mrapen,Kabupaten Grobogan.
  2. Ritual “Pindapatta”, suatu ritual pemberian dana makanan kepada para bhikkhu/bhiksu oleh masyarakat (umat) untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melakukan kebajikan.
  3. Samadhi pada detik-detik puncak bulan purnama. Penentuan bulan purnama ini adalah berdasarkan perhitungan falak, sehingga puncak purnama dapat terjadi pada siang hari.

Selain tiga upacara pokok tadi dilakukan pula pradaksina, pawai, serta acara kesenian.

disalin dari http://id.wikipedia.org/wiki/Waisak


Hari Raya Wafatnya Yesus Kristus


Info Meninggal Dunia atau Berita Duka Cita

Jumat Agung – Wafatnya Yesus Kristus

Jumat Agung adalah Hari Jumat sebelum Minggu Paskah, hari peringatan Penyaliban Yesus Kristus dan wafatNya di Golgota.
Berdasarkan rincian kitab suci mengenai Pengadilan Sanhedrin atas Yesus, dan analisis ilmiah, peristiwa penyaliban Yesus sangat mungkin terjadi pada hari Jumat, namun tanggal terjadinya tidak diketahui dengan pasti, dan akhir-akhir ini diperkirakan terjadi pada tahun 33 Masehi, oleh dua kelompok ilmuwan, dan sebelumnya diperkirakan terjadi pada tahun 34 Masehi oleh Isaac Newton via perhitungan selisih-selisih antara kalender Yahudi dan kalender Julian dan besarnya bulan sabit.[1][2][3][4][5][6]

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting]Dalam Alkitab

[sunting]Yesus di hadapan Mahkamah Agama

Setelah sebelumnya mengadakan Perjamuan Malam (Matius 26:17-25Markus 14:12-25Lukas 22:7-23Yohanes 13:21-30), Yesus bersama-sama denganmurid-murid-Nya pergi ke Taman Getsemani. Di sana Yesus berdoa.
Setelah Yesus berdoa, maka datanglah Yudas, “dan bersama-sama serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi” Matius 26:47. Yesus lalu dibawa ke hadapan Mahkamah Agama Yahudi, di depan Imam Besar Kayafas.

Imam-imam kepala, malah seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu terhadap Yesus, supaya Ia dapat dihukum mati, tetapi mereka tidak memperolehnya, walaupun tampil banyak saksi dusta. Tetapi akhirnya tampillah dua orang, yang mengatakan: “Orang ini berkata: Aku dapat merubuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari.” Lalu Imam Besar itu berdiri dan berkata kepada-Nya: “Tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?” Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.” Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.” Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: “Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya. Bagaimana pendapat kamu?” Mereka menjawab dan berkata: “Ia harus dihukum mati!” Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia, dan berkata: “Cobalah katakan kepada kami, hai Mesias, siapakah yang memukul Engkau?”

Matius 26:59-68

Sementara itu Petrus yang mengikuti hingga di halaman Mahkamah Agama dikenali sebagai pengikut Yesus namun ia menyangkal tiga kali, dan pada saat itu berkokoklah ayam. Petrus yang teringat apa yang dikatakan Yesus kepadanya: “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu Petrus pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya. Matius 26:75

[sunting]Yesus di hadapan Pilatus

Karena yang berhak menghukum mati seseorang hanyalah pemerintah Romawi, maka Yesus dibawa ke hadapan Pontius Pilatus.

Lalu Yesus dihadapkan kepada wali negeri. Dan wali negeri bertanya kepada-Nya: “Engkaukah raja orang Yahudi?” Jawab Yesus: “Engkau sendiri mengatakannya.” Tetapi atas tuduhan yang diajukan imam-imam kepala dan tua-tua terhadap Dia, Ia tidak memberi jawab apapun. Maka kata Pilatus kepada-Nya: “Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?” Tetapi Ia tidak menjawab suatu katapun, sehingga wali negeri itu sangat heran. … Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka: “Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?” Kata mereka: “Barabas.” Kata Pilatus kepada mereka: “Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?” Mereka semua berseru: “Ia harus disalibkan!” Katanya: “Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?” Namun mereka makin keras berteriak: “Ia harus disalibkan!” Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!” Dan seluruh rakyat itu menjawab: “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!” Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.

Matius 27:11-14, 23-26

[sunting]Yesus disiksa dan diolok-olok

Setelah Yesus divonis hukuman salib oleh Pontius Pilatus, Yesus disiksa terlebih dahulu seperti yang umum dilakukan pada jaman Romawi.[7]

Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus. Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: “Salam, hai Raja orang Yahudi!” Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya. Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan.

Matius 27:27-31

[sunting]Yesus disalibkan

Setelah disesah, maka Yesus dihukum mati di atas kayu salib di Bukit Golgota atau Kalvari

Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi. Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia. Dan di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum: “Inilah Yesus Raja orang Yahudi.” Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya. Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala, mereka berkata: “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!” Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata: “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya. Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah.” Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela-Nya demikian juga.

Matius 27:35-44

[sunting]Yesus mati

Yesus pun mati di atas kayu salib, bukan karena Ia mati lemas atau kehabisan darah, tetapi Ia sendiri yang menyerahkan nyawa-Nya ke tangan Bapa-Nya.

Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya. Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Dan sesudah kebangkitan Yesus, merekapun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang. Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.”

Matius 27:50-54

[sunting]Perhitungan Tanggal Jumat Agung

Jumat Agung adalah Hari Jumat sebelum Paskah, yang perhitungan tanggalnya berbeda antara Gereja Timur dan Gereja Barat (lihat Computus untuk penjelasan lebih rinci). Paskah jatuh pada hari Minggu pertama sesudah Bulan Purnama Paskah, bulan purnama pada atau sesudah 21 Maret, yang dijadikan tanggal dari vernal equinox. Perhitungan Barat menggunakan Kalender Gregorian, sedangkan perhitungan Timur menggunakan Kalender Julian, di mana tanggal 21 Maret-nya kini bertepatan dengan tanggal 3 April menurut kalender Gregorian. Perhitungan-perhitungan untuk menentukan tanggal bulan purnama tersebut juga berbeda. Lihat Metode Penentuan Tanggal Paskah (Astronomical Society of South Australia).
Karena Paskah di Gereja Barat dapat jatuh pada salah satu tanggal mulai tanggal 22 Maret sampai 25 April menurut kalender Gregorian, maka Jumat Agung dapat jatuh antara tanggal19 Maret sampai 22 April. Dalam Gereja Timur, Paskah dapat jatuh antara 22 Maret sampai 25 April menurut kalender Julian (antara 4 April dan 8 Mei menurut kalender Gregorian, untuk periode 1900 dan 2099), jadi Jumat Agung dapat jatuh antara 19 Maret dan 22 April (atau antara 1 April dan 5 Mei menurut kalender Gregorian).

[sunting]Lihat pula

[sunting]Referensi

  1. ^ Isaac Newton, 1733, Of the Times of the Birth and Passion of Christ, dalam “Observations upon the Prophecies of Daniel and the Apocalypse of St. John” (London: J. Darby dan T. Browne)
  2. ^ Bradley Schaefer, 1990, Lunar Visibility and the Crucifixion Jurnal Triwulanan dari Royal Astronomical Society 31.
  3. ^ Waktu Penyaliban menurut para Astronom http://www.mirabilis.ca/archives/000736.html
  4. ^ Waktu Wafat Kristus menurut para Astronom http://english.pravda.ru/science/tech/16-05-2003/2819-christ-0
  5. ^ John Pratt Newton’s Date For The Crucifixion “Jurnal Triwulanan dari Royal Astronomical Society”, Sept. 1991
  6. ^ Tanggal Penyaliban Menurut Newton http://www.johnpratt.com/items/docs/newton.html
  7. ^ Encyclopaedia Britannica: Tentang Penyaliban

[sunting]Pranala luar

disalin dari http://id.wikipedia.org/wiki/Jumat_Agung


Hari Raya Nyepi


Hari Raya Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun Baru Saka. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka.

[sunting]Pengertian Nyepi

Ogoh-ogoh yang sedang diparadekan di daerah Ngrupuk dalam upacara Bhuta Yajna.

Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan / kalender Saka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktifitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit.

Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Buwana Alit (alam manusia / microcosmos) dan Buwana Agung/macrocosmos (alam semesta). Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali.

[sunting]Melasti, Tawur (Pecaruan), dan Pengrupukan

Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) di arak ke pantai atau danau, karena laut atau danau adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala leteh (kotor) di dalam diri manusia dan alam.

Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada “tilem sasih kesanga” (bulan mati yang ke-9), umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya di segala tingkatan masyarakat,mulai dari masing-masing keluarga,banjar,desa,kecamatan dan seterusnya, dengan mengambil salah satu dari jenis-jeniscaru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), danTawur Agung (besar). Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Buta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima) warna berjumlah 9 tanding/paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Buta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Buta Raja, Buta Kala dan Batara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.

Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus di Balipengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.

[sunting]Puncak acara Nyepi

Keesokan harinya, yaitu pada Purnama Kedasa (bulan purnama ke-10), tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya. Pada hari ini suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktifitas seperti biasa. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan “Catur Brata” Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa,brata,yoga dan semadhi.

Demikianlah untuk masa baru, benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam tahun baru Caka pun, dasar ini dipergunakan, sehingga semua yang kita lakukan berawal dari tidak ada,suci dan bersih. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga ( menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).

Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru. Kebiasaan merayakan hari raya dengan berfoya-foya, berjudi, mabuk-mabukan adalah sesuatu kebiasaan yang keliru dan mesti diubah.

[sunting]Ngembak Geni (Ngembak Api)

Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Saka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada “pinanggal ping kalih” (tanggal 2) sasih kedasa (bulan X). Pada hari ini Tahun Baru Saka tersebut memasuki hari kedua. Umat Hindu melakukan Dharma Shanti dengan keluarga besar dan tetangga, mengucap syukur dan saling maaf memaafkan (ksama) satu sama lain, untuk memulai lembaran tahun baru yang bersih. Inti Dharma Santi adalah filsafat Tattwamasi yang memandang bahwa semua manusia diseluruh penjuru bumi sebagai ciptaan Ida Sanghyang Widhi Wasa hendaknya saling menyayangi satu dengan yang lain, memaafkan segala kesalahan dan kekeliruan. Hidup didalam kerukunan dan damai.

 

disalin dari http://id.wikipedia.org/wiki/Nyepi

 


Peringatan Hari Maulid Nabi Muhammad SAW


Maulid Nabi Muhammad SAW kadang-kadang Maulid Nabi atau Maulud saja (bahasa Arab: مولد، مولد النبي‎, mawlidun-nabī), adalah peringatan hari lahirNabi Muhammad SAW, yang di Indonesia perayaannya jatuh pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Kata maulid atau miladdalam bahasa Arab berarti hari lahir. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad.

Sejarah

Perayaan Maulid Nabi diperkirakan pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, seorang gubernur Irbil, di Irak pada masa pemerintahan SultanSalahuddin Al-Ayyubi (1138-1193). Adapula yang berpendapat bahwa idenya justru berasal dari Sultan Salahuddin sendiri. Tujuannya adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat itu, yang sedang terlibat dalamPerang Salib melawan pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan kota Yerusalem dan sekitarnya.

Perayaan di Indonesia

Masyarakat muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat nabi, pembacaan syair Barzanji dan pengajian. Menurut penanggalan Jawa bulan Rabiul Awal disebut bulan Mulud, dan acara Muludan juga dirayakan dengan perayaan dan permainan gamelan Sekaten.

Perayaan di luar negeri

Perayaan Maulid di India.

Sebagian masyarakat muslim Sunni dan Syiah di dunia merayakan Maulid Nabi. Muslim Sunni merayakannya pada tanggal 12 Rabiul Awal sedangkan muslim Syiah merayakannya pada tanggal 17 Rabiul Awal, yang juga bertepatan dengan ulang tahun Imam Syiah yang keenam, yaitu Imam Ja’far ash-Shadiq.

Maulid dirayakan pada banyak negara dengan penduduk mayoritas Muslim di dunia, serta di negara-negara lain di mana masyarakat Muslim banyak membentuk komunitas, contohnya antara lain di IndiaBritania, dan Kanada.[1] [2] [3] [4] [5][6] [7][8][9] Arab Saudi adalah satu-satunya negara dengan penduduk mayoritas Muslim yang tidak menjadikan Maulid sebagai hari libur resmi.[10] Partisipasi dalam ritual perayaan hari besar Islam ini umumnya dipandang sebagai ekspresi dari rasa keimanan dan kebangkitan keberagamaan bagi para penganutnya.[11]

Perkiraan tanggal Maulid, 2010-2013[12]
Tahun Masehi 12 Rabiul Awal (Sunni) 17 Rabiul Awal (Syiah)
2010 26 Februari 3 Maret
2011 15 Februari 20 Februari
2012 4 Februari 9 Februari
2013 24 Januari 29 Januari
Semua tanggal adalah perkiraan, karena tanggal aktual dapat berbeda sesuai dengan penetapan awal bulan (kalender) berdasarkan pengamatan fisik terhadap rembulan (benda astronomi).

Perbedaan pendapat

Terdapat beberapa kaum ulama yang berpaham Salafi dan Wahhabi yang tidak merayakannya karena menganggap perayaan Maulid Nabi merupakan sebuah bid’ah, yaitu kegiatan yang bukan merupakan ajaran Nabi Muhammad SAW. Mereka berpendapat bahwa kaum muslim yang merayakannya keliru dalam menafsirkannya sehingga keluar dari esensi kegiatannya. Namun demikian, terdapat pula ulama yang berpendapat bahwa peringatan Maulid Nabi bukanlah hal bid’ah, karena merupakan pengungkapan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW.

 

disalin dari http://id.wikipedia.org/wiki/Maulid_Nabi_Muhammad


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 87 other followers

%d bloggers like this: